Ikuti Kami

Puan Maharani Desak Pemerintah Atasi Persoalan Banjir di Demak yang Terus Berulang

“Banjir di Demak ini sudah sering terjadi, dan menjadi catatan kita bersama."

Puan Maharani Desak Pemerintah Atasi Persoalan Banjir di Demak yang Terus Berulang
Ketua DPR RI, Puan Maharani.

Jakarta, Gesuri.id - Ketua DPR RI, Puan Maharani, menyoroti banjir besar yang melanda Kabupaten Demak dan menyebabkan seorang anak berusia 8 tahun meninggal dunia. Ia meminta pemerintah segera mengatasi persoalan banjir berulang yang terus terjadi di wilayah tersebut.

“Banjir di Demak ini sudah sering terjadi, dan menjadi catatan kita bersama. Tentunya menjadi keprihatinan bagi DPR karena banjir kali ini menyebabkan adanya korban jiwa, dan dukacita mendalam kami sampaikan kepada pihak keluarga,” kata Puan, dikutip Rabu (8/4/2026).

Seperti diketahui, banjir besar melanda Demak dipicu oleh jebolnya tanggul serta meluapnya air Sungai Tuntang pada Jumat (3/4) pagi, yang kemudian merendam permukiman, fasilitas umum, hingga lahan pertanian.

Banjir juga menyebabkan satu orang anak berusia 8 tahun, warga Desa Trimulyo, Kecamatan Guntur, meninggal dunia setelah hanyut terbawa arus saat tanggul Sungai Tuntang jebol.

Berdasarkan kaji cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Demak, banjir merendam delapan desa di empat kecamatan, dengan sebanyak 2.839 warga harus mengungsi hingga Sabtu (4/4).

“Baik yang berada di pengungsian, atau warga yang memilih bertahan di rumahnya, termasuk bagi warga yang membutuhkan bantuan dalam membersihkan reruntuhan rumah mereka yang rusak berat akibat banjir,” tutur Politisi Fraksi PDI Perjuangan ini.

Diinformasikan, sejumlah rumah di Demak mengalami rusak berat akibat banjir. Beberapa bangunan bahkan hanya menyisakan atap maupun fondasi, sehingga tidak lagi dapat ditempati.

“Penting agar instansi terkait segera memberi penanganan kesehatan bagi warga korban banjir yang membutuhkan. Lakukan jemput bola dengan memeriksa kondisi di setiap wilayah maupun pengungsian,” ungkap Puan.

Selain merendam ribuan rumah, banjir juga berdampak pada 10 fasilitas pendidikan dan 15 fasilitas ibadah, serta menggenangi sekitar 671 hektare lahan persawahan.

“Tentunya ini menambah beban ekonomi masyarakat dalam skala yang lebih luas,” sebut perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR RI itu.

Puan menilai banjir yang dipicu jebolnya tanggul Sungai Tuntang menunjukkan masih lemahnya mitigasi bencana di wilayah rawan.

“Masyarakat perlu mendapat penjelasan yang lebih terbuka mengenai apakah titik tanggul yang jebol memang sudah masuk dalam peta kerentanan prioritas, bagaimana evaluasi teknis dilakukan sebelum kejadian,” ujar Puan.

“Dan mengapa wilayah yang berkali-kali menghadapi tekanan serupa masih mengalami kerusakan dengan konsekuensi yang hampir sama. Risiko lama terkait bencana banjir berulang ini harus segera diatasi,” sambung Puan.

Ia menambahkan, ketika bencana terus berulang di kawasan yang sudah lama dipetakan rawan, masyarakat berhak mengetahui akar persoalan sebenarnya.

“Yang paling mendesak saat ini adalah memastikan dampak terhadap rakyat tidak berkembang lebih jauh. Petani harus memperoleh kepastian agar musim tanam tidak hilang seluruhnya, warga terdampak harus mendapat perlindungan sampai aktivitas hidup mereka pulih,” papar Puan.

“Serta langkah korektif terhadap infrastruktur harus dilakukan dengan logika pencegahan, bukan semata perbaikan setelah kerusakan,” imbuh mantan Menko PMK itu.

Selain banjir di Demak, Puan juga menyoroti ancaman fenomena El Nino yang berpotensi memicu kekeringan pada periode Juni hingga Agustus 2026.

“Terutama ketika dampaknya paling cepat dirasakan justru oleh kelompok yang ruang bertahannya paling sempit khususnya petani kecil, pekerja harian, dan rumah tangga berpenghasilan rendah,” ujar Puan.

Ia menekankan bahwa potensi kemarau panjang, khususnya di Pulau Jawa, tidak boleh dipandang sebagai peringatan rutin semata karena wilayah ini merupakan pusat produksi pangan nasional.

“Ketika produksi terganggu di wilayah utama, yang terdampak bukan hanya sektor pertanian, tetapi juga dapur rumah tangga masyarakat yang lebih dulu merasakan kenaikan harga sebelum negara sempat menjelaskan situasinya,” tukasnya.

“Maka Pemerintah dari berbagai instansi harus mampu menyiapkan sistem yang efektif sebagai bentuk antisipasi demi memastikan dampak El Nino Ekstrem tak banyak mempengaruhi kesejahteraan rakyat,” pungkas Puan.

Quote