Jakarta, Gesuri.id – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, mengenang keberhasilan Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, dalam membawa Indonesia keluar dari krisis multidimensi pada masa kepemimpinannya.
Salah satu pencapaian monumental yang disoroti adalah pelunasan utang kepada Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF).
"Kita punya pengalaman dalam menghadapi berbagai krisis. Krisis multidimensi berhasil diselesaikan oleh Ibu Megawati Soekarnoputri pada tahun 2004, termasuk pelunasan utang IMF di bawah kepemimpinan beliau," ujar Hasto saat ditemui di Balai Kota Yogyakarta, Kamis (9/4).
Baca: Perjalanan Hidup Ganjar Pranowo Lengkap dengan Rekam Jejak
Menurut Hasto, langkah fundamental dalam menghadapi guncangan ekonomi adalah keberanian memangkas pengeluaran yang tidak mendesak. Anggaran tersebut kemudian dialihkan untuk sektor-sektor produktif yang mampu menggerakkan ekonomi akar rumput.
Ia mencontohkan geliat ekonomi lokal seperti pembukaan cabang kuliner khas di Yogyakarta yang mendapat dukungan pemerintah daerah. "Itu artinya menciptakan gerak ekonomi. Pemda memberikan campur tangan di situ untuk mengubah pengeluaran tidak perlu menjadi pengeluaran produktif," tuturnya.
Selain efisiensi, Hasto menegaskan bahwa peningkatan pendapatan negara hanya bisa dicapai melalui iklim investasi yang sehat. Hal ini menuntut adanya penegakan hukum yang adil dan birokrasi yang ramping.
"Tanpa hukum yang berkeadilan, tanpa kepastian terkait masalah tanah, dan tanpa birokrasi yang mempermudah perizinan, investasi tidak akan masuk," tegas Hasto.
Sebagai langkah konkret, PDI Perjuangan terus mendorong para kader di tingkat eksekutif maupun legislatif untuk fokus pada dua hal: produksi pertanian dan pemanfaatan teknologi tepat guna.
Baca: Ganjar Terima Pusaka Kujang Trah Siliwangi
Hasto menjelaskan bahwa keterbatasan sumber daya, seperti air, tidak boleh menjadi penghalang produksi padi jika dikelola dengan teknologi yang benar. Di sisi lain, diversifikasi pangan tetap menjadi prioritas partai.
"Kami mempelopori penanaman sepuluh tanaman pendamping beras, seperti singkong dan umbi-umbian. Prinsip utamanya adalah jangan sampai perut rakyat lapar," kata Hasto.
Menutup keterangannya, ia menekankan pentingnya program padat karya untuk menjaga daya beli dan pendapatan masyarakat di tengah situasi ekonomi yang menantang.

















































































