Jember, Gesuri.id — Aksi nekat seorang ibu rumah tangga berinisial S di Jember yang mencuri tiga bungkus beras demi menyambung hidup berujung pada kunjungan dua legislator setempat, Senin (2/11).
Di balik kasus pencurian yang berakhir damai ini, terkuak persoalan pelik mengenai kemiskinan ekstrem dan karut-marut administrasi kependudukan yang membuat warga miskin terisolasi dari uluran tangan pemerintah.
Kasus ini bermula ketika S terekam kamera pengawas (CCTV) mencuri tiga bungkus beras berukuran masing-masing 5 kilogram—dengan total 15 kilogram—di sebuah minimarket di Kelurahan Tegalbesar, Kecamatan Kaliwates, Jember, pada Minggu (25/10/2026).
Beras tersebut diangkut menggunakan sepeda motor. Meski sempat dijemput pihak Polsek Kaliwates pada Selasa (27/10/2026), perkara ini akhirnya berakhir damai setelah korban selaku pemilik toko memaafkan perbuatan S dan mencabut laporan kepolisian.
Baca: Empat Keberhasilan Ganjar Pranowo Selama Menjadi Gubernur
Dari hasil pemeriksaan, S mengaku terpaksa melarikan beras tersebut semata-mata untuk bertahan hidup. Polisi menemukan sisa setengah bungkus beras di rumahnya, sementara dua bungkus lainnya telah dijual untuk kebutuhan sehari-hari.
Wakil Ketua DPRD Jember sekaligus Ketua DPC PDI Perjuangan Jember, Widarto, yang mendatangi kediaman S untuk menyalurkan bantuan sembako, menyoroti dua akar masalah utama di balik tragedi kemanusiaan ini: himpitan ekonomi dan persoalan administrasi kependudukan (adminduk).
"Memang ada problem ekonomi, ini bisa dilihat dari rumah yang ditinggalinya. Selain itu, dia juga mengalami persoalan adminduk karena tidak memiliki KTP dan KK Jember, sehingga sulit mengakses bantuan dari pemerintah," ujar Widarto, Senin (2/11/2026).
S, yang sehari-hari tinggal bersama dua anaknya dan menghidupi keluarganya seorang diri, diketahui masih berstatus sebagai penduduk Kabupaten Sumenep, Madura, meskipun telah bertahun-tahun menetap di Jember. Anak sulungnya bekerja di Bali, anak keduanya telah lulus SMA namun belum bekerja, sementara anak bungsunya yang berusia 13 tahun terpaksa putus sekolah.
Sebelumnya, S menggantungkan hidup sebagai buruh musiman di gudang tembakau. Namun, sejak lima bulan terakhir kontrak kerjanya telah habis. Ia kemudian banting setir menjadi buruh serabutan dengan menitipkan jajanan serta nasi bungkus di warung-warung, hingga akhirnya keputusasaan mendorongnya nekat mencuri beras.
Widarto menilai kasus ini sebagai sebuah tamparan keras bagi pemerintah daerah, terutama di tengah klaim penurunan angka kemiskinan absolut.
Baca: Ini 5 Kutipan Inspiratif Ganjar Pranowo Tentang Anak Muda
"Ini adalah potret kemiskinan yang ada di Jember, di tengah keberhasilan Pemkab Jember menurunkan angka kemiskinan absolut. Saya mengapresiasi kinerja pemkab, namun ini juga menjadi PR [pekerjaan rumah] bersama, termasuk DPRD Jember," tegas Widarto.
Sebagai langkah cepat, Widarto berharap persoalan dokumen kependudukan S dapat segera diselesaikan agar ia resmi tercatat sebagai warga Jember. Dengan demikian, S dan keluarganya memiliki hak akses terhadap berbagai program bantuan sosial dari pemerintah.
Ia juga mengingatkan bahwa kegagalan negara dalam merespons masalah perut dan validitas data kependudukan berisiko memperluas kerawanan sosial. "Karena persoalan ekonomi ini bisa memicu kriminalitas," pungkasnya.
Kunjungan tersebut turut didampingi oleh Ketua Fraksi NasDem DPRD Jember sekaligus anggota Komisi C, David Handoko Seto, yang hadir secara terpisah untuk menyalurkan bantuan serupa kepada keluarga S.

















































































