Jakarta, Gesuri.id - Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi Jawa Barat, Ineu Purwadewi Sundari, memberikan catatan khusus mengenai makna emansipasi di era modern.
“Sosok Raden Ajeng Kartini bukan sekadar simbol perjuangan masa lalu, melainkan ruh bagi gerakan perempuan masa kini untuk terus mendobrak batasan, terutama dalam penguasaan teknologi dan kemandirian ekonomi di tengah ketidakpastian global,” ujar Ineu.
Ineu menegaskan bahwa esensi dari pemikiran Kartini adalah kebebasan untuk mendapatkan akses pendidikan dan pengetahuan.
Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu
“Di masa sekarang, hal tersebut diterjemahkan sebagai kemandirian berpikir dan keberanian untuk mengambil peran strategis di ruang publik,” ujar legislator dapil Subang, Majalengka Sumedang tersebut.
Ineu juga melihat bahwa perempuan Jawa Barat memiliki potensi luar biasa dalam menggerakkan roda ekonomi daerah melalui sektor UMKM. Namun, ia juga tidak menampik adanya tantangan besar berupa beban ganda yang seringkali menghimpit ruang gerak perempuan antara kewajiban domestik dan aspirasi profesional.
Dalam pandangannya, Kartini masa kini adalah perempuan yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
“Kaum perempuan diharapkan tidak hanya menjadi penonton dalam derasnya arus digitalisasi, tetapi aktif menjadi pelaku inovasi. Kita mesti meningkatkan literasi digital agar perempuan mampu memproteksi diri dari berbagai ancaman di dunia maya, sekaligus memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan taraf hidup keluarga,” ajak Ineu.
Baginya, perempuan yang berdaya secara ekonomi dan cerdas secara intelektual akan melahirkan generasi penerus yang jauh lebih berkualitas bagi masa depan Jawa Barat.
Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur
Lebih lanjut, Ineu menyoroti pentingnya perlindungan terhadap hak-hak perempuan dan anak yang masih menjadi pekerjaan rumah besar di Jawa Barat.
“Melalui fungsi pengawasan di DPRD, saya berkomitmen untuk terus mengawal kebijakan yang inklusif dan responsif gender. Saya percaya bahwa kebijakan yang berpihak pada perempuan akan berdampak langsung pada penguatan ketahanan keluarga sebagai unit terkecil di masyarakat,” tegasnya.
Ineu mengajak seluruh perempuan untuk saling merangkul dan mendukung satu sama lain, bukan justru saling menjatuhkan. Sesuai dengan semangat “Habis Gelap Terbitlah Terang”, ia berharap setiap perempuan di Tanah Pasundan mampu menyalakan cahaya bagi lingkungannya, sekecil apa pun peran yang mereka ambil.

















































































