Ikuti Kami

Kenneth Soroti Kerusakan Ekosistem Akibat Ledakan Populasi Ikan Sapu-sapu 

Ikan ini juga bisa mengancam kelangsungan hidup ikan lokal seperti wader dan gabus, karena kerap memakan telur-telurnya.

Kenneth Soroti Kerusakan Ekosistem Akibat Ledakan Populasi Ikan Sapu-sapu 
Anggota DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth.

Jakarta, Gesuri.id - Maraknya populasi ikan sapu-sapu di sejumlah aliran kali di Jakarta menjadi sorotan serius bagi beberapa kalangan. 

Salah satunya adalah Anggota DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth yang menegaskan, bahwa fenomena ini bukan sekadar persoalan biasa, melainkan sinyal kuat adanya kerusakan ekosistem perairan yang semakin mengkhawatirkan.

Menurut pria yang akrab disapa Bang Kent itu, ikan sapu-sapu atau Hypostomus plecostomus merupakan spesies invasif yang justru bisa berkembang pesat di lingkungan perairan yang tercemar. Kondisi ini mencerminkan bahwa kualitas air di sungai-sungai Jakarta masih jauh dari kata baik.

Baca: Ini 7 Fakta Unik & Menarik Tentang Ganjar Pranowo 

"Banyak yang menganggap ikan sapu-sapu sebagai pahlawan kebersihan karena memakan alga dan sisa organik. Padahal, kenyataannya justru sebaliknya. Kehadiran mereka menjadi indikator kuat bahwa perairan kita sedang tidak sehat," ujar Kent dalam keterangannya, Minggu (19/4).

Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta itu menjelaskan, kemampuan ikan sapu-sapu bertahan di kondisi ekstrem, seperti minim oksigen dan tingkat pencemaran tinggi, membuat spesies ini mampu mendominasi perairan. Bahkan, ledakan populasinya menjadi tanda bahwa ikan-ikan lokal yang lebih sensitif sudah mulai terdesak.

Lebih jauh, Kent mengingatkan, bahwa dampak keberadaan ikan sapu-sapu tidak bisa dianggap remeh. Selain mengganggu keseimbangan ekosistem, ikan ini juga bisa mengancam kelangsungan hidup ikan lokal seperti wader dan gabus, karena kerap memakan telur-telurnya.

"Ikan ini juga menggali lubang di bantaran sungai untuk berkembang biak. Ini berpotensi memicu erosi hingga longsor di tepi sungai, yang pada akhirnya bisa memperparah risiko banjir di Jakarta," bebernya.

Tak hanya dari sisi lingkungan, kata Kent, ancaman juga muncul dari aspek kesehatan. Ikan sapu-sapu diketahui sebagai bioakumulator logam berat, seperti merkuri, timbal, dan kadmium. Artinya, ikan ini menyerap zat berbahaya dari air tercemar, sehingga berisiko tinggi jika dikonsumsi manusia.

"Ini penting untuk diketahui masyarakat. Jangan sampai ikan sapu-sapu dimanfaatkan tanpa kajian, karena bisa berdampak buruk bagi kesehatan," tegas Ketua IKAL (Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas RI) PPRA Angkatan LXII itu.

Kent pun mendorong Pemerintah Provinsi untuk mengambil langkah konkret dan terintegrasi dalam menangani persoalan ini. Penanganan tidak cukup hanya dengan penangkapan massal ikan sapu-sapu, tetapi harus dibarengi dengan upaya perbaikan kualitas air secara menyeluruh.

Langkah tersebut mencakup pengendalian limbah domestik dan industri, peningkatan sistem sanitasi, serta edukasi masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai.

Baca: Ganjar: Saya Tidak Bisa Asal Janji yang Nanti Tak Bisa Dilaksanakan

Selain itu, Kent juga membuka peluang adanya pendekatan inovatif dan kolaboratif, seperti pemanfaatan ikan sapu-sapu menjadi produk bernilai ekonomi, dengan catatan melalui kajian ilmiah yang ketat dari sisi kesehatan dan keberlanjutan.

"Kita butuh solusi yang tidak hanya reaktif, tapi juga memberi nilai tambah bagi masyarakat, tanpa mengabaikan aspek keselamatan dan kesehatan," ujarnya.

Ia menegaskan, bahwa persoalan sungai merupakan tanggung jawab bersama. Jika Jakarta ingin menjadi kota global yang berdaya saing, maka pengelolaan lingkungan, khususnya sungai, harus menjadi prioritas utama.

"Saya secara konsisten akan terus mengawal kebijakan dan anggaran yang berpihak pada pemulihan ekosistem sungai. Ini bukan hanya soal lingkungan, tapi juga bagi masa depan Kota Jakarta dan warganya," tuturnya.

Quote