Ikuti Kami

Komisi VIII DPR Desak Kementerian Haji Satukan Syarikah Jemaah Lansia dan Pendamping

Pemisahan lansia dari keluarga dinilai memindahkan beban pengawasan kepada jemaah lain sehingga berpotensi mengganggu kekhusyukan ibadah.

Komisi VIII DPR Desak Kementerian Haji Satukan Syarikah Jemaah Lansia dan Pendamping
Anggota Komisi VIII DPR RI, Ina Ammania

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi VIII DPR RI, Ina Ammania, mendorong agar jemaah haji lanjut usia (lansia) yang berangkat bersama keluarga dapat ditempatkan dalam satu syarikah (perusahaan penyedia layanan) dengan pendampingnya. 

Pemisahan lansia dari keluarga dinilai memindahkan beban pengawasan kepada jemaah lain sehingga berpotensi mengganggu kekhusyukan ibadah.

​"Jika jemaah lansia berangkat bersama keluarga, seyogianya mereka ditempatkan dalam satu syarikah. Bagaimanapun, pengawasan lansia adalah tanggung jawab keluarga, bukan jemaah lain," ujar Ina saat mengikuti Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VIII DPR RI di Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (11/9/2026).

Baca: Ganjar Bangga dengan Kualitas Bahan Aspal Karya Anak Bangsa

​Politisi PDI Perjuangan ini meminta Kementerian Haji dan Umrah RI memproses penggabungan porsi keberangkatan lansia dan pendampingnya sejak jauh hari. 

Penempatan yang mendadak menjelang keberangkatan dinilai menyulitkan koordinasi di lapangan dan menurunkan kualitas pelayanan bagi rombongan.

​Ina juga menekankan pentingnya penyiapan kebutuhan khusus lansia sejak dari Tanah Air, seperti pembekalan kebersihan diri hingga tata cara berwudu hemat air. Materi praktis ini dinilai perlu masuk dalam program manasik mengingat daya ingat jemaah lansia yang mulai menurun.

​Dari aspek kesehatan, Ina menyuarakan pentingnya jemaah lansia yang memiliki penyakit bawaan (komorbid) untuk membawa obat-obatan pribadi yang memadai. Ia mendesak agar pendataan obat-obatan dilakukan sebelum jemaah ditetapkan masuk kelompok terbang (kloter).

​"Obat-obatan di Arab Saudi belum tentu sama dengan yang ada di Indonesia. Karena itu, ketersediaannya harus dipersiapkan matang sebelum berangkat," tuturnya.

​Selain aspek kesehatan, Ina mengingatkan seluruh jemaah untuk senantiasa membawa kartu Nusuk dan tidak meninggalkannya di penginapan. Kartu tersebut merupakan dokumen krusial untuk memasuki area Masjidil Haram dan mengikuti prosesi wukuf.

Baca: Perjalanan Hidup Ganjar Pranowo Lengkap dengan Rekam Jejak

​Mengingat terbatasnya jadwal manasik resmi dari pemerintah—yang umumnya hanya digelar 2–3 kali—Ina mengusulkan agar materi manasik teknis dikemas dalam format digital, seperti melalui USB atau platform digital lainnya.

​"Materi dalam format digital memungkinkan jemaah belajar mandiri atau membentuk kelompok belajar kecil setelah salat atau pengajian mingguan," jelasnya.

​Edukasi teknis ini mencakup panduan simulasi penerbangan, tata cara penggunaan fasilitas hotel, hingga penggunaan lift. Menurutnya, pemahaman teknis ini penting karena sebagian besar jemaah baru pertama kali mengalaminya, dan kelancaran tiap individu akan berdampak pada kenyamanan seluruh rombongan.

​Menutup pernyataannya, Ina mendesak Kementerian Kesehatan RI untuk segera merilis daftar jenis pemeriksaan medis (medical check-up) begitu daftar nama porsi jemaah keluar, guna menghindari pemeriksaan yang terburu-buru menjelang keberangkatan.

Quote