Jakarta, Gesuri.id– Anggota Komisi X DPR RI, Once Mekel, mengimbau para orang tua untuk lebih memperketat pengawasan terhadap penggunaan media sosial dan perangkat elektronik (gawai) pada anak-anak.
Hal ini ditekankan mengingat besarnya risiko dampak negatif yang membayangi tumbuh kembang generasi muda.
Langkah preventif ini disampaikan Once dalam agenda kunjungan daerah pemilihan (dapil) di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan, Senin (4/5/2026).
Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu
Di hadapan warga, ia menyoroti bagaimana ketergantungan pada layar digital dapat memengaruhi psikologis anak secara signifikan.
"Saya sampaikan kepada ibu-ibu di sini, tolong batasi pemakaian media sosial dan gawai untuk anak-anak kita," ujar politisi sekaligus musisi tersebut dengan nada persuasif.
Menurutnya, peran keluarga adalah benteng pertama dalam menyaring arus informasi di dunia maya.
Kekhawatiran Once bukan tanpa alasan. Penggunaan gawai yang berlebihan tanpa pengawasan orang tua sering kali menjadi pintu masuk bagi konten yang tidak sesuai umur, mulai dari perundungan siber (cyberbullying) hingga paparan radikalisme dan konten dewasa.
Lebih lanjut, Once mengungkapkan bahwa saat ini pemerintah bersama legislatif tengah menggodok rencana regulasi yang lebih serius. Wacana ini bertujuan untuk menciptakan aturan hukum yang tegas terkait batasan usia pengguna perangkat teknologi.
"Kita sedang menyusun satu rencana untuk kemungkinan adanya larangan ketat terhadap penggunaan gawai sampai usia tertentu, misalnya hingga anak menginjak umur 16 tahun," tutur Once menjelaskan arah kebijakan yang sedang didiskusikan di parlemen.
Baca: Ganjar Pranowo Usung Pertahanan dan Keamanan Berbasis Daya
Tujuan utama dari wacana pembatasan usia tersebut adalah untuk memastikan anak-anak tidak terpapar (exposed) secara prematur terhadap pengaruh buruk dunia digital. Pada usia di bawah 16 tahun, anak dianggap masih dalam tahap pembentukan karakter yang krusial.
Once menilai, sebelum mencapai usia tersebut, anak-anak seharusnya lebih banyak berinteraksi secara sosial di dunia nyata dan fokus pada pendidikan formal maupun karakter. Gawai, jika tidak dikontrol, dikhawatirkan justru mengalihkan fokus utama mereka dalam belajar.
Menutup pernyataannya, ia berharap para orang tua dapat lebih bijak dan tidak menjadikan gawai sebagai alat praktis untuk menenangkan anak. Kesadaran kolektif dari lingkungan keluarga dianggap sebagai kunci utama keberhasilan perlindungan anak di era digital ini.

















































































