Medan, Gesuri.id – Anggota DPR RI, Sofyan Tan, menegaskan bahwa seni dan budaya tidak boleh berhenti sebatas ekspresi estetika semata. Lebih dari itu, seni harus mampu bertransformasi menjadi alat kritik yang tajam terhadap berbagai kebijakan publik yang menyimpang.
Pernyataan tersebut disampaikan Sofyan dalam acara "Semarak Budaya" bertajuk ‘Dari Ruang Redaksi ke Panggung Teater, Merawat Kebebasan Pers Lewat Seni’ yang digelar di Taman Budaya, Senin (4/5).
Sofyan Tan mengaitkan seni dengan realitas sosial. Menurutnya, karya seni seperti puisi dan teater memiliki kekuatan untuk menggugah kesadaran masyarakat atas isu-isu krusial, mulai dari kerusakan lingkungan hingga ketimpangan sosial.
Baca: Ganjar Membuktikan Dirinya Sebagai Sosok Yang Inklusif
Ia mencontohkan dua karya yang dibacakan dalam acara tersebut yang menggambarkan kondisi alam yang kian terancam. Bagi Sofyan, kerusakan tersebut bukanlah bencana alam biasa, melainkan dampak nyata dari kebijakan yang abai terhadap keberlanjutan lingkungan.
"Seni itu membuka cakrawala. Dari situ kita melihat realitas, termasuk saat lingkungan hancur. Itu bukan semata peristiwa alam, ada kebijakan yang ikut berperan di dalamnya," tegas Sofyan.
Selain seni, Sofyan menekankan pentingnya pendidikan inklusif sebagai fondasi kesadaran publik. Ia menilai konflik horizontal yang kerap dipicu oleh sentimen suku dan agama terjadi karena minimnya pemahaman yang memadai.
"Pendidikan tanpa sekat adalah jalan membangun masyarakat yang utuh. Ini adalah pengejawantahan nyata dari nilai-nilai Pancasila," tambahnya.
Di era digital, Sofyan melihat peluang besar bagi para seniman. Karya yang dikemas secara apik kini memiliki daya jangkau yang luas dan bisa menjadi medium edukasi sekaligus kontrol sosial yang efektif. Ia mengajak insan pers dan pelaku seni untuk tidak takut bersuara demi mendorong perubahan kebijakan yang lebih adil.
Kolaborasi Jurnalisme dan Teater: Menjawab Tantangan Kebebasan Pers
Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI), Khairiah Lubis, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan kolaborasi antara jurnalis dengan komunitas Medan Teater Tronic (MTT).
Baca: Jangkar Baja Nilai Ganjar Pranowo Sosok Yang Otentik & Konsisten
Khairiah mengungkapkan fakta keprihatinan terkait kondisi pers di tanah air. Bertepatan dengan momentum Hari Kebebasan Pers Sedunia (3 Mei), ia menyoroti anjloknya peringkat kebebasan pers Indonesia.
"Dalam tiga tahun terakhir, posisi Indonesia merosot tajam dari peringkat 108 pada 2023 menjadi 129 pada 2026. Penurunan ini berbanding lurus dengan meningkatnya ancaman serta teror terhadap jurnalis," ungkap Khairiah.
Guna menghadapi tekanan tersebut, FJPI sejak 2024 mulai mengembangkan konsep performance journalism. Melalui pertunjukan teater yang dimainkan oleh jurnalis perempuan, isu-isu sensitif seperti beban ganda hingga ketangguhan perempuan dalam bencana dikemas secara lebih menyentuh emosi publik.
"Di tengah industri media yang kian kompleks, kreativitas bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan agar jurnalisme tetap hidup dan relevan," pungkasnya.
Khairiah juga mengapresiasi dukungan konsisten Sofyan Tan selama lebih dari dua dekade terhadap berbagai program FJPI, terutama dalam penguatan kapasitas jurnalis dan isu sosial kelompok rentan.

















































































