Jakarta, Gesuri.id - Mantan Anggota Komisi XI DPR RI, Hendrawan Supratikno, menyoroti pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) dengan alasan pribadi.
Jabatan tersebut kini diisi oleh Destry Damayanti sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur BI.
Hendrawan berharap figur definitif pengganti Perry memiliki integritas tinggi dan kredibilitas kuat untuk mengatasi "defisit kepercayaan" yang saat ini membayangi sektor moneter nasional.
Baca: Ini 5 Kutipan Inspiratif Ganjar Pranowo Tentang Anak Muda
"Posisi Indonesia saat ini sedang sulit karena menghadapi enam defisit sekaligus, yaitu defisit neraca perdagangan, defisit transaksi berjalan, defisit keseimbangan primer, defisit neraca pembayaran, defisit APBN, dan defisit kepercayaan," kata Hendrawan kepada awak media di Jakarta, Selasa (27/7).
Ia memahami adanya keresahan pasar terkait independensi Bank Indonesia pascamundurnya Perry Warjiyo. Pasar mengkhawatirkan BI hanya akan dijadikan mesin pencetak uang dan pembeli surat utang negara.
"Persepsi pasar ini harus dijawab dengan politik dan kebijakan moneter yang kredibel," tegas politikus PDI Perjuangan tersebut.
Menurut Hendrawan, kekhawatiran terkait independensi Bank Indonesia sejatinya telah terasa sejak digulirkannya skema burden sharing (berbagi beban) saat penanganan krisis COVID-19. Kala itu, terdapat kecenderungan bahwa kebijakan fiskal lebih diarusutamakan.
"Lalu lahirlah UU P2SK (UU Nomor 4 Tahun 2023). Dalam undang-undang tersebut, ada perubahan tugas BI pada Pasal 7 serta manajemen likuiditas perekonomian pada Pasal 11," jelasnya.
Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar
"Hal ini makin diperkuat dengan adanya Pasal 36A dan 36B yang mengatur kewenangan BI untuk membeli surat utang, baik di pasar perdana maupun sekunder," tambah Hendrawan.
Lebih lanjut, Hendrawan menilai Bank Indonesia kala itu terkesan kehilangan independensinya. Ia mengamati, sepanjang proses penyesuaian aturan tersebut, sikap Perry Warjiyo memperlihatkan ream enggan, resistensi, dan tingkat kewaspadaan yang tinggi.
"Jadi, bagi mereka yang terbiasa membaca rekam jejak (trajectory) ketimbang sekadar peristiwa (event), langkah mundurnya Perry Warjiyo sebenarnya sudah bisa diprediksi," pungkasnya.

















































































