Ikuti Kami

Putra Nababan Minta Branding Injourney Tidak Kaburkan Identitas Bandara Soekarno-Hatta

Menurut anggota Fraksi PDI Perjuangan ini, branding nama Injourney Airports yang berlebihan juga terjadi di banyak bandara lain.

Putra Nababan Minta Branding Injourney Tidak Kaburkan Identitas Bandara Soekarno-Hatta
Anggota Komisi VII DPR RI, Putra Nababan.

Tangerang, Gesuri.id  – Anggota Komisi VII DPR RI, Putra Nababan, mendesak perusahaan BUMN Injourney untuk tidak melakukan branding berlebihan di berbagai bandara yang mengakibatkan identitas asli bandara menjadi kabur.

“Seperti di Bandara Soekarno-Hatta ini, saya melihat banyak sekali tulisan Injourney Airports. Saya bahkan kesulitan mencari tulisan 'Bandara Soekarno-Hatta', yang akhirnya saya dapati di dekat tempat sampah Terminal 3 Gate 5. Buktinya ada, saya foto,” kata Putra Nababan saat Rapat Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII dengan Injourney dan Kementerian Pariwisata di kawasan Bandara Soekarno-Hatta, Kamis (15/1).

Menurut anggota Fraksi PDI Perjuangan ini, branding nama Injourney Airports yang berlebihan juga terjadi di banyak bandara lain, seperti Bandara Ahmad Yani Semarang dan Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali.

Baca: Banteng Wakatobi Komitmen Perkuat Displin Ideologi

“Secara resmi saya meminta agar Injourney Airports tidak mengaburkan identitas dari seluruh bandara di Indonesia yang nama-namanya diambil dari nama pahlawan nasional kita,” katanya.

Ucapan Putra itu langsung disambut pimpinan rombongan, Lamhot Sinaga, dengan mengatakan, “Apa yang disampaikan Pak Putra adalah pernyataan resmi Komisi VII.”

Pernyataan tersebut kemudian disusul oleh beberapa anggota lain yang menyatakan persetujuannya.

Lebih lanjut, Putra mengatakan bahwa jika Injourney ingin melakukan promosi branding, mereka harus tetap melibatkan nama asli bandara tersebut. 

“Misalnya, Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Managed by Injourney atau Operated by Injourney. Dengan model ini, identitas bandara tidak dikaburkan atau bahkan dihilangkan,” kata mantan pemimpin redaksi televisi berita ini.

Nama-nama pahlawan nasional seperti Sam Ratulangi di Manado, Tjilik Riwut di Palangka Raya, Hang Nadim di Batam, dan Fatmawati Soekarno di Bengkulu, menurut Putra, justru menjadi bahan obrolan sejarah yang menarik bagi para penumpang, terutama generasi muda, untuk mengetahui jati diri bangsa.

Baca: Bonnie Triyana Soroti Kondisi Perpustakaan Digital dan Fisik

“Saya berkali-kali memanfaatkan momentum nama bandara ini untuk menjelaskan kepada anak-anak tentang identitas para pahlawan nasional yang namanya dijadikan nama bandara. Jangan sampai sekarang tulisan Injourney Airports jauh lebih banyak daripada nama pahlawan nasional,” ujar Putra.

Menjawab desakan tersebut, pihak Injourney Airports menyampaikan terima kasih dan akan segera membawa masalah ini ke dalam rapat dengan holding Injourney.

Selain masalah branding, Putra juga mendalami masalah konektivitas berbagai destinasi pariwisata, aksesibilitas menuju dan dari bandara, serta keterlibatan Injourney dalam program kerja pariwisata pemerintah.

Quote