Landak, Gesuri.id — Bupati Landak, Karolin Margret Natasa, menyoroti rendahnya capaian pendidikan masyarakat di wilayahnya. Saat ini, angka rata-rata lama sekolah di Kabupaten Landak baru menyentuh 7,76 tahun.
Artinya, mayoritas penduduk di sana tidak menyelesaikan jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan serius bagi pemerintah daerah. Sebab, rendahnya tingkat pendidikan berbanding lurus dengan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Landak yang saat ini tertahan di angka 69,92.
Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar
Selain rata-rata lama sekolah, indikator lain yang memerlukan perhatian khusus adalah angka harapan lama sekolah yang baru mencapai 12,55 tahun.
"Rata-rata lama sekolah kita masih 7,76 tahun. Artinya, masyarakat kita rata-rata hanya mengenyam pendidikan sekitar tujuh tahun saja. Ini masih sangat rendah dan harus menjadi perhatian bersama," ujar Karolin, Senin (22/6).
Karolin mengaku prihatin melihat banyaknya anak di Kabupaten Landak yang belum mampu menyelesaikan pendidikan hingga jenjang menengah atas. Padahal, bursa kerja modern saat ini menuntut standardisasi tinggi, keterampilan mumpuni, serta kemampuan beradaptasi dengan teknologi.
Menurutnya, lanskap dunia kerja telah berubah. Pekerjaan yang dahulu dianggap sederhana sekalipun, kini memerlukan keahlian khusus.
"Harapan kita, anak-anak Landak tidak hanya menjadi tenaga kerja kasar. Mereka harus mampu bersaing dan menguasai keterampilan yang dibutuhkan pasar kerja industri," tegasnya.
Lebih lanjut, Karolin mengingatkan bahwa Indonesia akan menghadapi puncak bonus demografi pada periode 2030 hingga 2045. Pada fase tersebut, lonjakan jumlah penduduk usia produktif dapat menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Namun, ia menggarisbawahi bahwa bonus demografi justru bisa berbalik menjadi beban daerah jika tidak diimbangi dengan kualitas pendidikan yang memadai.
"Di satu sisi ini adalah peluang besar karena jumlah angkatan kerja melimpah. Namun, jika mereka tidak bersekolah dan tidak memiliki keterampilan, yang terjadi justru ledakan tenaga kerja tidak terdidik," kata Karolin memperingatkan.
Baca: Ganjar Tegaskan Sikap PDI Perjuangan di Luar Pemerintahan
Menyikapi hal ini, Karolin mengajak seluruh elemen masyarakat—mulai dari aparatur pemerintah, institusi sekolah, hingga orang tua—untuk bergotong-royong memastikan anak-anak di Landak tetap bersekolah dan mendapatkan hak pendidikan yang layak.
Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten Landak berkomitmen untuk terus membuka akses pendidikan yang lebih luas sembari membenahi mutu pembelajaran di sekolah.
"Kami akan berupaya maksimal agar anak-anak kita bisa terus sekolah, diiringi dengan peningkatan kualitas pendidikan yang adaptif terhadap kebutuhan masa depan," pungkasnya.

















































































