Ikuti Kami

Rokhmin Dahuri: Bangun Indonesia Emas 2045 Harus Miliki Kemampuan Memaafkan

Justru dengan memberi maaf perasaan kita jadi tidak stres.

Rokhmin Dahuri: Bangun Indonesia Emas 2045 Harus Miliki Kemampuan Memaafkan
Anggota Komisi IV DPR RI yang juga Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University sekaligus Menteri Kelautan dan Perikanan RI periode 2001–2004, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI yang juga Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University sekaligus Menteri Kelautan dan Perikanan RI periode 2001–2004, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., mengajak setiap pasangan suami istri membiasakan saling memaafkan sebelum tidur. 

Ajakan tersebut disampaikannya melalui renungan berjudul "Maafkan Pasanganmu Sebelum Tidur Malam" yang dibagikan dalam WAG Dulur Rokhmin Dahuri dan mendapat respons positif dari para anggotanya.

"Banyak studi menunjukkan bahwa menyimpan dendam serta senantiasa berperasaan negatif berakibat buruk bagi kesehatan mental Anda seperti gangguan kecemasan dan frustasi. Justru dengan memberi maaf perasaan kita jadi tidak stres. Selama ini dianggap dendam hanya ada di pikiran dan mental kita tetapi tubuh kita pun akan terpengaruh," ujar Prof. Rokhmin Dahuri saat membagikan tulisan Ustadz Cahyadi Takariawan yang mengutip dari psikolog klinis dr. Seth Meyers, PsyD, Jumat (7/8/2026).

Dalam renungan tersebut, Rokhmin menekankan membangun Indonesia Emas 2045 tidak hanya memerlukan kemajuan di bidang ekonomi, kelautan, maupun infrastruktur, tetapi juga keluarga yang kuat, sehat, dan harmonis sebagai fondasi utama bangsa. Menurutnya, kemampuan memaafkan menjadi salah satu modal penting dalam menjaga keharmonisan rumah tangga.

Ia juga mengangkat sejumlah hasil penelitian ilmiah yang menunjukkan dampak buruk dari kebiasaan menyimpan dendam. Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Health Psychology pada 2016 menyebutkan bahwa individu yang sulit memaafkan cenderung mengalami tingkat stres lebih tinggi serta memiliki kondisi kesehatan mental dan fisik yang lebih buruk. 

Sementara riset Medical College of Georgia pada 2014 mengaitkan kebiasaan memendam dendam dengan meningkatnya risiko penyakit jantung, hipertensi, gangguan lambung, sakit kepala kronis, hingga sakit punggung.

"Orang yang mudah memaafkan bukanlah orang yang lemah. Justru mereka adalah orang-orang kuat yang sanggup memaafkan kesalahan banyak orang," tegas tulisan tersebut.

Menurut Rokhmin, memaafkan bukan sekadar ajaran moral atau agama, tetapi juga memiliki manfaat nyata berdasarkan berbagai kajian ilmiah. Ia menjelaskan bahwa sikap pemaaf mencerminkan kematangan kepribadian, membantu menjaga kesehatan mental dan fisik, serta membuka jalan menuju kehidupan yang lebih bahagia.

"Berbagai studi ilmiah telah menunjukkan betapa dahsyat pengaruh memaafkan dalam kehidupan seseorang. Dalam memaafkan tersimpan kekuatan," lanjutnya.

Di akhir renungannya, Rokhmin mengajak setiap pasangan untuk mengakhiri hari tanpa menyimpan amarah maupun dendam. Menurutnya, keberanian memaafkan lebih dahulu merupakan kunci menjaga keutuhan rumah tangga dan menciptakan kehidupan yang lebih tenteram.

"So, berhentilah menjadi pendendam. Capek deh jadi pendendam. Hidup tak pernah tenteram. Segera maafkan kesalahan pasanganmu, sebelum tidur malam ini. Dan rasakan efek positifnya saat bangun tidur besok..."

Pesan tersebut mendapat sambutan positif dari ratusan anggota WAG Dulur Rokhmin Dahuri. Banyak di antara mereka mengaku tersentuh dan menjadikan renungan tersebut sebagai pengingat bahwa keharmonisan rumah tangga tidak ditentukan oleh siapa yang paling benar, melainkan oleh keberanian untuk saling memaafkan sebelum hari berakhir.

Quote