Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI periode 2024–2029, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, menegaskan bahwa kekuatan sejati sebuah bangsa tidak hanya diukur dari kekayaan alam atau kekuatan ekonomi, tetapi juga dari karakter rakyatnya.
Hal itu ia sampaikan dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang digelar di Kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Indramayu, Kamis (4/9).
"Empat karakter utama harus kita tanamkan sebagai warga negara yang bertanggung jawab: etos kerja unggul, akhlak mulia, keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan cinta tulus terhadap tanah air," tegas Rokhmin di hadapan peserta.
Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kelautan dan Perikanan 2025–2030 itu menekankan bahwa nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar simbol, melainkan kekuatan hidup bangsa.
Ia mengajak masyarakat memperkokoh nilai kebangsaan sembari menempatkan ketahanan pangan sebagai prioritas utama.
"Dengan pemahaman empat pilar dan komitmen kolektif terhadap ketahanan pangan, kita bisa membangun Indonesia yang berdaulat dan diridhoi Allah SWT," ujar Rektor Universitas UMMI Bogor tersebut.
Tak hanya berbicara soal pembentukan karakter, Rokhmin juga mengaitkan nilai kebangsaan dengan isu strategis ketahanan pangan.
Menurutnya, pengelolaan potensi pangan secara bijak dan berkelanjutan merupakan bagian dari tanggung jawab kebangsaan yang tidak bisa dipisahkan.
"Melalui pemahaman dan penerapan empat pilar serta komitmen bersama dalam mengelola sumber daya pangan, kita bisa membangun Indonesia yang maju, mandiri, dan diridhoi Allah SWT," ujarnya.
Dalam kegiatan yang sarat semangat kebangsaan itu, Rokhmin menyerukan pentingnya penguatan nilai-nilai kebangsaan sebagai fondasi membangun bangsa yang beradab, makmur, dan berdaya saing global.
"Tujuan utama dari kegiatan ini adalah menanamkan kembali nilai-nilai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara. Di tengah tantangan zaman, kita harus kembali ke jati diri sebagai bangsa yang berakhlak, beretika, dan berkepribadian kuat," tegasnya.
Menurut Rokhmin, pembangunan sejati bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi pembangunan yang berlandaskan pada nilai luhur bangsa. Ia berharap masyarakat semakin sadar akan peran penting mereka dalam menjaga persatuan, keadilan, dan keberlanjutan bangsa.
"Empat Pilar bukan sekadar hafalan, tapi harus menjadi sikap hidup. Kalau itu kita pegang, maka tak ada yang bisa memecah belah Indonesia," tandasnya.
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University itu menekankan, keempat nilai tersebut merupakan perwujudan konkret Pancasila dan bekal menghadapi dinamika global maupun tantangan internal bangsa.
"Jika kita ingin Indonesia menjadi bangsa besar dan bermartabat, maka bangsa ini harus dibangun dari karakter. Bukan hanya infrastruktur, tapi juga manusia yang berkualitas, religius, dan nasionalis sejati," ungkapnya.
Lebih jauh, Rokhmin memandang Pancasila tidak hanya sebagai dasar negara, tetapi juga pandangan hidup, ideologi pemersatu, sekaligus sumber dari segala sumber hukum.
"Pancasila adalah ligatur dalam perikehidupan kebangsaan dan kenegaraan kita," ujar Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001–2004 itu.
Ia juga menyinggung pentingnya bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang dikelola dengan semangat gotong royong sebagaimana pernah ditegaskan Bung Hatta. Sementara itu, gagasan Muhammad Yamin tentang prinsip desentralisasi dan dekonsentrasi disebutnya relevan untuk merawat keberagaman sekaligus memperkuat otonomi daerah.
Dalam konteks keberagaman, Rokhmin menggarisbawahi semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai kekuatan pemersatu.
"Unity in diversity, diversity in unity bukan hanya slogan, tapi prinsip hidup bersama," pungkasnya.

















































































