Ikuti Kami

Rokhmin Dahuri: Menjaga Mangrove Menyelamatkan Masa Depan, Bukan Sekadar Menanam

TERA atau Take Environmental Regenerative Action adalah gerakan mulia untuk memulihkan ekosistem alam yang rusak.

Rokhmin Dahuri: Menjaga Mangrove Menyelamatkan Masa Depan, Bukan Sekadar Menanam
Anggota Komisi IV DPR RI yang juga Guru Besar Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Lautan IPB, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI yang juga Guru Besar Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Lautan IPB, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., menegaskan upaya menjaga mangrove tidak boleh dipandang sebatas kegiatan penanaman pohon, melainkan sebagai langkah strategis untuk menyelamatkan masa depan lingkungan, ketahanan pangan, dan kesejahteraan masyarakat pesisir. 

Hal itu disampaikannya saat menghadiri TERA Batch 8 Mangrove for Earth Festival bertajuk "Aksi Kolaborasi Menjaga Bumi, Selamatkan Generasi" dalam rangka memperingati Hari Mangrove Sedunia atau World Mangrove Day 2026 di pesisir Indramayu, dikutip Kamis (30/7/2026).

“TERA atau Take Environmental Regenerative Action adalah gerakan mulia untuk memulihkan ekosistem alam yang rusak, khususnya mangrove, agar tetap lestari dan produktif,” kata Prof. Rokhmin di hadapan peserta festival.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Rokhmin menyampaikan apresiasi kepada seluruh inisiator dan kolaborator gerakan pemulihan ekosistem mangrove. Apresiasi diberikan kepada Cyintia Dian Astuti selaku Direktur PT Arunika Bumi Lestari (ABL) sekaligus Founder TERA, serta para mitra yang terlibat, di antaranya Direktur PT Earthcore Indonesia Erdonis Erdwan, Direktur PT HBB Pressolind Achmad Fauzi, jajaran Pemerintah Kecamatan Pasekan dan Desa Pabean Ilir, Yayasan Mandiri Hijau Lestari, Earth Pledge Australia, Triputra Agro Persada, Kelompok Tani Jaya Mandiri, hingga Gen-Z Echopore Indonesia.

Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Rokhmin menegaskan tantangan Indonesia saat ini tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, pengangguran, dan kemiskinan, tetapi juga krisis lingkungan yang mengancam keberlanjutan kehidupan.

Menurutnya, mangrove memiliki fungsi ekologis yang tidak tergantikan sebagai benteng alami wilayah pesisir.

“Mangrove adalah benteng alami pesisir. Akarnya menahan abrasi, gelombang, banjir rob, dan intrusi air laut. Ia menangkap lumpur, menstabilkan garis pantai, bahkan bisa memperluas daratan secara alami. Ini adalah nature-based solutions yang paling murah dan efektif,” tegasnya.

Ia menjelaskan, mangrove juga menjadi penopang utama produktivitas sumber daya kelautan. Lebih dari 80 persen biota laut tropis seperti ikan, udang, kepiting, dan kerang menjadikan kawasan mangrove sebagai spawning ground, nursery ground, dan feeding ground.

“Kalau mangrovenya rusak, jangan heran stok ikan dan udang menipis, nelayan merugi, dan ketahanan pangan pesisir runtuh,” ucapnya.

Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University itu juga menyoroti peran penting mangrove dalam menghadapi krisis iklim. Menurutnya, sebagai ekosistem blue carbon, mangrove memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan karbon hingga empat kali lebih besar dibandingkan hutan daratan.

“Menanam mangrove bukan sekadar penghijauan. Ini adalah aksi mitigasi perubahan iklim, konservasi keanekaragaman hayati, dan investasi ekonomi masa depan,” jelasnya.

Di akhir sambutannya, Menteri Kelautan dan Perikanan RI periode 2001–2004 itu mengingatkan agar gerakan rehabilitasi mangrove tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata.

“Keberhasilan mangrove jangan hanya diukur dari berapa ribu bibit yang ditanam. Tapi lihat berapa yang hidup, berapa luas ekosistem yang benar-benar pulih, apakah ikannya kembali, abrasinya berkurang, dan apakah ekonomi masyarakatnya naik,” pesan Prof. Rokhmin.

Ia menekankan pentingnya keberlanjutan melalui pemeliharaan, pemantauan, evaluasi, serta penerapan ilmu pengetahuan dalam setiap program rehabilitasi mangrove. Menurutnya, pemilihan jenis mangrove harus disesuaikan dengan kondisi pasang surut, salinitas, dan substrat, serta melibatkan kearifan lokal dan partisipasi masyarakat sejak awal.

“Ekonomi dan ekologi harus harmonis. Pembangunan tidak boleh hanya untuk hari ini, tapi harus menjamin keselamatan dan kesejahteraan generasi mendatang. Mangrove lestari, perikanan produktif, masyarakat pesisir sejahtera,” pungkasnya.

Quote