Jakarta, Gesuri.id - Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Soekarno (YPS) yang juga anggota Komisi II DPR RI, Romi Hendra Rahtomo Soekarno atau (Romy Soekarno), menyebut bangsa yang tidak menguasai teknologi akan diperintah oleh teknologi.
Hal tersebut disampaikan Romy saat Wisuda Sarjana ke-XXIII dan Magister Hukum ke-VII serta Dies Natalis ke-XXVI Tahun Akademik 2024/2025 Universitas Bung Karno (UBK) di Balai Sudirman, Jakarta.
Pada acara yang turut dihadiri Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri itu, Romy awalnya menekankan pentingnya peran lulusan UBK sebagai intelektual yang berpihak pada kebenaran, sejarah, dan kemajuan bangsa.
Romy menegaskan wisuda bukan sekadar prosesi akademik, tetapi adalah penyerahan mandat ideologis dari UBK kepada para lulusan agar menjadi intelektual yang berkepribadian dan berani berpihak pada rakyat.
Ia mengingatkan kembali pesan almarhumah Rachmawati Soekarnoputri, pendiri Yayasan Pendidikan Soekarno, bahwa generasi Indonesia tidak boleh tercabut dari akar sejarahnya. Romy juga berharap agar keluarga besar Bung Karno terus mendukung percepatan kemajuan Universitas Bung Karno.
“Nama Bung Karno di gerbang kampus bukan hanya identitas, tetapi amanat sejarah,” kata Romy melalui keterangannya, diterima Jumat (28/11).
Romy menyoroti tantangan baru bangsa Indonesia berupa bentuk penjajahan modern melalui teknologi dan data.
“Penjajahan hari ini datang lewat server asing, algoritma yang mengendalikan opini publik, serta platform digital yang menyedot ekonomi nasional,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya mewujudkan kedaulatan teknologi yang merupakan bagian dari interpretasi baru Trisakti di abad ke-21. Romy bahkan menegaskan bahwa jika Bung Karno hidup hari ini, beliau pasti akan memperingatkan tentang bahaya imperialisme digital.
“Bangsa yang tidak menguasai teknologi akan diperintah oleh teknologi. Bangsa yang tidak menguasai datanya akan dijadikan komoditas oleh bangsa lain," kata Romy yang terinspirasi dari gaya Bung Karno.
UBK, kata Romy, harus menjadi kampus teknologi kerakyatan, yang mengembangkan AI berbasis Pancasila, penelitian blockchain yang demokratis, hingga ekonomi digital tanpa kolonialisme platform.Romy mengajak para wisudawan untuk menjadi pelopor perubahan sesuai profesi yang mereka pilih.
“Kalau kalian pengacara, jadilah pembela rakyat. Kalau ekonom, jadilah penjaga kedaulatan pangan. Kalau programmer, jadilah pencipta sistem, bukan buruh digital bagi korporasi asing,” ujarnya.

















































































