Ikuti Kami

Sadarestuwati: Padi MSP 65 Atau GP 65 Bogor Salah Satu Solusi Swasembada Pangan

“Saya juga sempat was-was karena deskripsinya itu produktivitasnya hanya 4 sekian sampai 5 ton."

Sadarestuwati: Padi MSP 65 Atau GP 65 Bogor Salah Satu Solusi Swasembada Pangan
Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Sadarestuwati.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Sadarestuwati, menilai padi MSP 65 atau GP 65 Bogor berpotensi menjadi salah satu solusi untuk mencapai swasembada dan memperkuat ketahanan pangan nasional. Penilaian itu disampaikan setelah padi berumur genjah tersebut menunjukkan produktivitas mencapai 12,54 ton per hektare dalam uji coba di lahan demplot Kabupaten Jombang.

“Saya juga sempat was-was karena deskripsinya itu produktivitasnya hanya 4 sekian sampai 5 ton. Saya bilang, waduh, ini nanti kalau ditanam cuma sebegitu, saya yakin petani pasti enggak tertarik,” kata Sadarestuwati.

Hal itu disampaikan Sadarestuwati saat panen raya padi GP 65 Bogor atau MSP 65 di lahan demplot miliknya, Dusun Kedungpring, Desa Bareng, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Kamis (17/9/2026). Panen raya tersebut turut dihadiri Ketua DPP PDI Perjuangan Ganjar Pranowo.

Kekhawatiran tersebut, kata Sadarestuwati, akhirnya terjawab melalui hasil uji coba di lahan demplot. Padi MSP 65 yang semula diperkirakan hanya menghasilkan 4-5 ton per hektare justru mampu mencapai produktivitas 12,54 ton per hektare.

“Hari ini kita bisa membuktikan bahwa padi genjah itu tidak selamanya produktivitasnya rendah. Hal ini kita buktikan ternyata MSP 65 atau GP 65 Bogor ini bisa menghasilkan 12,54 ton,” ujarnya.

Sadarestuwati memperkirakan produktivitas riil varietas tersebut tidak akan jauh dari angka 10 ton per hektare. Karena itu, ia menilai MSP 65 layak terus dikembangkan sebagai salah satu alternatif untuk mendukung ketahanan pangan.

“Artinya apa, bahwa padi ini memang benar-benar layak dan ini bisa menjadi satu solusi ketahanan pangan di negeri tercinta Indonesia ini,” tegas perempuan yang j7ga Ketua Bidang Pertanian dan Pangan DPP PDI Perjuangan itu.

Menurut Sadarestuwati, salah satu karakter yang menjadi keunggulan MSP 65 adalah umur panennya yang relatif singkat. Padi tersebut dapat dipanen sekitar 65 hari setelah tanam, meski pada panen raya kali ini waktu panen sengaja dimundurkan untuk menyesuaikan agenda bersama.

“Dengan umur hanya 65-80 hari. Ini sebenarnya kemarin 65 hari sudah bisa dipanen, sudah waktunya dipanen, akan tetapi karena harus menunggu untuk panen raya ini kami mundurkan agar bisa kita panen bersama-sama,” jelasnya.

Ia menilai umur panen yang relatif singkat dapat menjadi salah satu keunggulan dalam pengembangan padi, terutama jika dipadukan dengan produktivitas yang tinggi.

Sadarestuwati juga mengungkapkan hasil pengamatannya terhadap bulir padi MSP 65 di lahan demplot. Jika pada awalnya ukuran bulir terlihat kecil, setelah ditanam di Jombang bentuk dan ukurannya berkembang lebih normal.

“Dan melihat buliran yang awalnya bulirnya ini kecil, ternyata ketika sudah ditanam di Bareng, ini bulirannya menjadi normal. Hampir mirip dengan Ciherang,” katanya.

Dalam budidayanya, MSP 65 tidak hanya diuji dari sisi produktivitas. Sadarestuwati juga menerapkan sistem pengairan menggunakan pipanisasi yang lebih hemat. Menurutnya, karakter tersebut menjadi penting terutama ketika padi ditanam pada musim kemarau.

“Ini cocok untuk ketika menanam pada musim kemarau. Bukan berarti pada musim penghujan enggak bagus, lebih bagus lagi. Akan tetapi di kemarau dia tahan dan alhamdulillah hasilnya sangat bagus,” ujarnya.

Proses budidaya juga dilakukan secara bertahap, mulai dari membalik tanah, penyemprotan biodekomposer, pengomposan hingga pengolahan menggunakan rotary.

“Setelah panen, saya brojol dulu, kemudian disemprot dengan Biodekom yang kita hasilkan sendiri. Setelah itu sudah menjadi kompos, kemudian disemprot dengan herbisida, baru kemudian di-rotary,” jelasnya.

Metode tersebut, kata Sadarestuwati, salah satunya digunakan untuk menekan pertumbuhan gulma dan mendukung pertumbuhan tanaman.

Meski hasil demplot menunjukkan produktivitas tinggi, benih MSP 65 saat ini masih dalam tahap pengembangan. Sadarestuwati mengatakan pengembangan akan dilakukan secara bertahap dari benih dasar menjadi benih pokok hingga benih sebar.

“Nanti bila para petani menginginkan untuk mencoba, nanti kita ada kerja sama dengan para petani. Karena benih ini masih benih BD (benih dasar) yang harus kami kembangkan untuk menjadi benih lagi, benih pokok, kemudian benih sebar yang nanti bisa dinikmati oleh seluruh petani di Indonesia,” ujarnya.

Padi MSP 65 dikembangkan sebagai varietas padi berumur genjah. Varietas tersebut dilaporkan memiliki umur sekitar 65-67 hari setelah tanam dan kemudian diusulkan menggunakan nama GP 65 Bogor, dengan GP merupakan singkatan dari “Gancang Panen”.

Bagi Sadarestuwati, hasil demplot di Jombang menjadi pijakan awal untuk membuktikan bahwa umur panen yang singkat tidak harus mengorbankan produktivitas.

“Saya memprediksi bahwa ini paling dapatnya ya di bawah 7 ton, ternyata 12,54 ton,” pungkasnya.

Quote