Jakarta, Gesuri.id – Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Samuel Wattimena menegaskan, tantangan terbesar industri kreatif Indonesia saat ini adalah kurangnya rasa percaya diri masyarakat terhadap kultur dan identitas budayanya sendiri. Hal ini ia sampaikan dalam Podcast Sudut Dengar Parlemen di Studio TV Parlemen, Jakarta.
Samuel mengungkapkan, masyarakat Indonesia cenderung minder ketika membandingkan budaya lokal dengan produk budaya asing yang viral di media sosial. Keadaan itu menyebabkan banyak masyarakat tidak menganggap keahlian tradisional sebagai aset ekonomi maupun kebanggaan budaya.
Ia mencontohkan banyak warga yang sebenarnya memiliki keahlian membuat produk kuliner atau kerajinan, tetapi menyebut dirinya “tidak bekerja” karena mereka tidak memahami nilai dari karya yang mereka hasilkan. “Dia bikin peyek enak sekali, atau jago bikin rendang, tapi tidak dianggap sebagai sesuatu yang punya nilai,” ujarnya.
Menurutnya, negara harus hadir memberikan dorongan agar warga mampu menghargai dirinya sendiri. Pemahaman tentang kekayaan budaya dan maknanya harus dimulai sejak dini, termasuk pada penggunaan wastra Nusantara seperti batik, tenun, atau songket.
Saat ini, penggunaan batik dan wastra oleh generasi muda masih sebatas konsumsi event-event besar, tanpa memahami makna dari motif yang dikenakan. “Kalau ditanya apa motifnya dan apa artinya, mayoritas tidak paham. Padahal maknanya luar biasa,” jelasnya.
Samuel juga menekankan bahwa Indonesia memiliki kekayaan motif yang jauh lebih kompleks dibanding Korea yang hanya memiliki sedikit motif wastra namun mampu mengkomunikasikannya ke dunia. Ia menilai pemahaman makna budaya akan membuat generasi muda lebih percaya diri dan menjadikan budaya Indonesia sebagai identitas.
Ia menambahkan bahwa era digital merupakan peluang besar bagi generasi muda untuk memperkenalkan budaya Indonesia ke dunia. Dengan populasi 280 juta lebih, Indonesia seharusnya bisa menjadi corong global budaya Nusantara, bukan sekadar pasar bagi produk asing.
“Local is the new global. Kekuatan kita ada pada etnik dan keragaman. Ini yang harus kita dorong bersama,” pungkasnya.

















































































