Ikuti Kami

Sejarah Terdistorsi Orba, Pelurusan Sejarah Penting!

Masinton mengatakan pelurusan sejarah penting untuk generasi bangsa.

Sejarah Terdistorsi Orba, Pelurusan Sejarah Penting!
Politikus PDI Perjuangan  Masinton Pasaribu.

Jakarta, Gesuri.id - Persaudaraan Alumni (PA) 212 meminta PDI Perjuangan dibubarkan sebagai buntut pernyataan dari Ketua Umum Megawati Soekarnoputri yang ingin sejarah 1965 diluruskan. 

Politikus PDI Perjuangan  Masinton Pasaribu menanggapi hal tersebut. Aktivis 1998 itu mengatakan pelurusan sejarah penting untuk generasi bangsa.

 Sebab, menurutnya, sejarah saat ini masih terdistorsi era Orde Baru.

Baca: Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah (Jasmerah)

Menurut Masinton, permintaan Megawati kepada Mendikbud soal pelurusan sejarah relevan dan penting agar informasi sejarah tidak simpang siur. Dia menyebut pihak yang tak setuju dengan usul Megawati karena faktor minim wawasan.

"Adapun orang yang bereaksi terhadap keinginan kita atau Ibu Megawati yang meminta negara melalui Kementerian Pendidikan untuk melakukan pelurusan sejarah, menurut saya orang yang bereaksi tersebut minim wawasan dan pengetahuan tentang sejarah," ujar Masinton.

Masinton melanjutkan,  disinilah pentingnya  pelurusan sejarah ini, yang dilakukan bukan untuk mengkultuskan seseorang, tetapi ingin sejarah itu dicatatkan dalam sejarah bangsa.

"Dengan begitu, generasi bangsa kita ke depan mengetahui persis tentang proses dan rangkaian peristiwa dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia," kata Masinton.

Sebelumnya, Wasekjen PA 212 Novel Bamukmin menilai Megawati tidak sedang ingin meluruskan sejarah. Menurutnya, ada upaya pemaksaan tafsir tunggal tentang Pancasila yang berkaitan dengan komunisme.

Seperti diketahui, Presiden ke-5 RI itu mengatakan gambaran sejarah Indonesia seperti terpotong sejak 1965. Padahal, menurutnya, sejarah 1965 itu merupakan tonggak sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

"Saya bicara kepada Pak Nadiem karena beliau Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, ya harus bagaimana ya, apakah hal ini tidak boleh diajarkan? Apakah sejarah bangsa kita harus terputus? Dari abad sekian arkeolog bilang begini, ada ratu ini, ada raja ini, tapi tahun '65 begitu, menurut saya seperti sejarah itu dipotong, disambung, dan ini dihapus," kata Megawati dalam diskusi virtual di akun YouTube Museum Kepresidenan Balai Kirti, Selasa (24/11).

Baca: Beginilah Sejarah Kopiah Hitam Bung Karno Bermula

Megawati kemudian mengenang kebesaran Sukarno sebagai proklamator kemerdekaan Indonesia, juga menjadi penggagas Konferensi Asia-Afrika. Namun Mega mengatakan kisah Sukarno itu dihapus pada era Orde Baru. Ia menyebut elite politik patah lidah, semua orang takut menyebut Sukarno sebagai proklamator.

Ketua Umum PDI Perjuangan itu kemudian meminta Mendikbud Nadiem Makarim mengkaji ulang sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah. Megawati berharap ada pelurusan sejarah soal Sukarno dan peristiwa 1965.

"Saya hanya permintaan saya itu bahwa tidakkah bisa diluruskan kembali (sejarah tentang) seorang yang bisa memerdekakan bangsa ini?" kata Mega.

Quote