Jakarta, Gesuri.id — Pembinaan atlet nasional dinilai wajib mengandalkan pendekatan sains (sports science) agar pemetaan potensi olahraga Indonesia lebih presisi dan mampu menghasilkan prestasi di tingkat internasional. Langkah ilmiah ini penting untuk menentukan cabang olahraga (cabor) serta wilayah prioritas penghasil atlet berbakat.
Hal tersebut ditegaskan oleh anggota Komisi X DPR RI, Sofyan Tan, dalam Rapat Kerja Komisi X DPR bersama Menteri Pemuda dan Olahraga di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (31/8).
Baca: Kisah Perjuangan Ganjar dari Mahasiswa Sampai Jadi Capres
"Untuk peningkatan prestasi, kita wajib mengandalkan sains. Memang agak terlambat, tetapi tidak ada kata terlambat. Pembinaan hari ini tidak boleh lagi hanya mengandalkan durasi latihan, melainkan harus berbasis kajian ilmiah," ujar Sofyan.
Politisi Fraksi PDI Perjuangan ini menjelaskan bahwa pendekatan ilmiah memudahkan pemerintah memetakan kekuatan atlet dan memilih cabor unggulan yang berpeluang besar menyumbang medali.
Ia mencontohkan pemetaan potensi atlet berdasarkan karakteristik wilayah dan latar belakang profesi.
"Misalnya untuk lari maraton, potensi dari Papua sangat besar. Sementara untuk cabor seperti menembak, panahan, atau berkuda, kita bisa mengoptimalkan potensi dari personel TNI," ungkapnya.
Oleh karena itu, Sofyan mendorong optimalisasi hasil riset lembaga seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam menyusun program pembinaan. Data ilmiah tersebut dinilai penting agar alokasi anggaran dan dukungan pemerintah dapat tepat sasaran.
Lebih lanjut, Sofyan menyoroti target prestasi Indonesia pada ajang Asian Games. Menurutnya, target empat medali emas dapat melonjak signifikan jika persiapan dilakukan secara serius sejak awal.
Baca: Inilah Profil dan Biodata Ganjar Pranowo
"Jika kita serius sejak awal, targetnya bukan lagi 4 medali emas, melainkan bisa di atas 10. Bulu tangkis kita sangat potensial, tetapi masalahnya persiapan kita kerap kurang serius," tegasnya.
Menanggapi kenaikan anggaran Kemenpora yang mencapai lebih dari Rp4 triliun, Sofyan menyampaikan apresiasinya. Ia berharap tambahan dana—termasuk pendirian akademi olahraga—benar-benar dialokasikan untuk memperkuat sistem pembinaan atlet secara berkelanjutan. Rincian penggunaan anggaran tersebut rencananya akan dibahas lebih mendalam dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) mendatang.

















































































