Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi X DPR RI Sofyan Tan menyoroti proses belajar mengajar Sekolah di Aceh Utara yang berlangsung dalam keterbatasan usai musibah yang melanda wilayah tersebut.
Menurutnya, sejumlah kendala mendasar hingga kini belum juga teratasi.
Baca: Ganjar Tekankan Kepemimpinan Strategis
“Faktanya di lapangan masih banyak lumpur yang berakibat pada terhambatnya proses belajar-mengajar, perabotan sederhana berupa meja dan papan tulis juga masih belum terpenuhi,” ungkapnya saat Rapat Kerja Komisi X dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah di Gedung Nusantara I, DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (21/1).
Ia menilai keterbatasan sarana belajar juga menjadi persoalan utama. Proses pembelajaran sementara dilaksanakan dalam satu ruangan dan sebagian besar siswa harus duduk di lantai. Banyak meja dan kursi sekolah rusak serta tidak dapat digunakan akibat terendam lumpur.
“Perlengkapan wajib anak sekolah seperti buku dan alat tulis juga harus disiapkan,” imbuh Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini.
Ia meminta pemerintah terus memberikan dukungan berkelanjutan agar sekolah dapat kembali berfungsi secara layak dan bermartabat. Dengan memberikan perhatian lebih konkret agar anak-anak tidak terlalu lama belajar dalam situasi darurat.
Baca: Ganjar Pranowo Tegaskan Marsinah Lebih Layak D
Upaya memastikan pendidikan tetap berjalan dengan baik harus menjadi fokus utama pemerintah melalui kebijakan pembelajaran yang tidak hanya fleksibel, tetapi juga adaptif terhadap kondisi nyata di lapangan.
Di sisi lain, ia menyampaikan hak tunjangan darurat bagi guru yang terdampak bencana juga harus segera terpenuhi begitu juga dengan kondisi tenda darurat yang sudah terlalu panas ketika siang hari.
“Jadi intinya hak-haknya harus segera terpenuhi pak Menteri, hari demi hari juga harus dipantau terus perkembangannya karena begitu banyaknya siswa yang terdampak,” tuturnya.

















































































