Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI, Sonny T. Danaparamita, menegaskan pentingnya penguatan hilirisasi sektor perikanan melalui pembangunan rantai ekonomi yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Menurutnya, langkah tersebut menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing produk perikanan Indonesia agar mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional. Hal itu disampaikan saat menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Diversifikasi dan Nilai Tambah Produk Hasil Perikanan di Aula Griya Rajut Aspirasi (GARASI), Banyuwangi, dikutip Selasa (28/7/2026).
“Melalui ruang kolaborasi seperti ini, kita ingin membangun rantai nilai yang kuat. Nelayan memperoleh kepastian pasar, UMKM mendapatkan bahan baku berkualitas, dan pemasar memiliki produk yang siap bersaing. Jika seluruh mata rantai ini terhubung, maka ekonomi daerah akan bergerak lebih cepat dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” kata Sonny.
Kegiatan yang bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI tersebut diikuti nelayan tangkap, pembudidaya ikan, pelaku UMKM pengolahan dan pemasaran hasil perikanan, hingga kader Posyandu. Bimtek ini menjadi bagian dari upaya mendorong peningkatan nilai tambah produk perikanan melalui inovasi dan penguatan kapasitas pelaku usaha.
Mewakili KKP RI secara daring, Analis Pasar Hasil Perikanan Ahli Muda, Agus Andi Subakir, menyampaikan bahwa Banyuwangi memiliki potensi perikanan yang sangat besar. Menurutnya, potensi tersebut harus diimbangi dengan peningkatan kualitas produk, inovasi, serta daya saing agar mampu menembus pasar yang lebih luas.
“Potensi komoditas perikanan di Banyuwangi merupakan peluang besar. Tantangannya adalah bagaimana produk yang dihasilkan memiliki daya saing tinggi sehingga mampu bersaing tidak hanya di pasar domestik, tetapi juga di pasar internasional,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, peserta juga mendapatkan pelatihan pengolahan produk perikanan berbasis bahan baku lokal. Narasumber Reistiyaningsih, pemilik Daniel Home Industry, membagikan pengalaman mengembangkan usaha pengolahan ikan menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
Melalui sesi praktik, Reistiyaningsih memperagakan pembuatan abon ikan tuna sekaligus menjelaskan strategi pengembangan usaha yang dapat diterapkan pelaku UMKM. Selain inovasi produk, ia menekankan pentingnya legalitas usaha sebagai syarat memperluas akses pasar.
“Kreativitas dan inovasi dalam memanfaatkan bahan baku lokal yang melimpah harus dibarengi legalitas usaha. Izin resmi menjadi kunci agar produk dapat masuk ke ritel modern, pasar nasional, hingga pasar ekspor,” jelasnya.
Sonny menilai penguatan sektor perikanan harus dilakukan melalui kolaborasi seluruh pelaku usaha dalam satu ekosistem yang saling menguntungkan. Ia mendorong agar hasil tangkapan nelayan dan produksi pembudidaya lokal dapat terserap oleh UMKM pengolahan, kemudian dipasarkan secara lebih luas melalui jaringan distribusi yang kuat.
Menurut legislator Fraksi PDI Perjuangan itu, model kemitraan yang menghubungkan nelayan, pelaku pengolahan, hingga pemasar akan menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Penguatan hilirisasi perikanan pun dinilai menjadi langkah strategis untuk meningkatkan nilai ekonomi hasil laut Indonesia. Dengan potensi sumber daya yang melimpah serta dukungan inovasi dari pelaku usaha, produk perikanan nasional diharapkan mampu menjadi komoditas unggulan yang tidak hanya berjaya di pasar domestik, tetapi juga menembus pasar global.

















































































