Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi VI DPR RI, Totok Hedi Santosa, menilai PT Pertamina (Persero) masih terlalu bergantung pada energi fosil di tengah percepatan transisi energi global. Ketergantungan pada minyak dan gas dinilai berisiko membuat Indonesia tertinggal, padahal potensi energi terbarukan seperti surya, angin, panas bumi, dan bioenergi sangat besar.
“Apakah Pertamina tidak memiliki minat untuk investasi lebih besar terhadap energi yang terbarukan?” ujarnya mempertanyakan komitmen BUMN energi tersebut dalam mendorong diversifikasi bisnis ke sektor energi bersih.
Ia menegaskan, arah kebijakan energi dunia saat ini menuntut langkah nyata, bukan sekadar wacana.
“Saya berharap Pertamina punya energi untuk lebih berinvestasi terhadap energi yang terbarukan,” harapnya, Jum'at (30/1).
Menurutnya, Pertamina seharusnya memiliki kapasitas dan instrumen yang cukup untuk mempercepat transisi tersebut.
“Kan mereka punya itu, subholding-subholdingnya seperti itu,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan agar keuntungan yang diperoleh Pertamina tidak semata-mata kembali digunakan untuk eksplorasi energi fosil.
“Nah ini, jangan sampai ini kita punya keuntungan di Pertamina sekian, gitu ya. Terus semuanya untuk mengeksplorasi lagi, mencari lagi, seakan-akan anak cucu kita nanti bagaimana itu?” tegasnya.
Ia menekankan bahwa tuntutan global terhadap energi bersih semakin kuat dan Indonesia tidak boleh tertinggal.
“Nah, padahal dunia hari ini mengharapkan energi yang terbarukan,” pungkasnya.
Politikus PDI Perjuangan itu pun mendorong perubahan arah strategi Pertamina agar benar-benar menjadi motor transisi energi nasional, bukan hanya bertahan sebagai pengelola energi masa lalu.

















































































