Samosir, Gesuri.id – Suasana duka menyelimuti Dusun I, Desa Huta Ginjang, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Senin (30/3).
Seorang remaja laki-laki berusia 15 tahun ditemukan meninggal dunia di dalam kamar mandi rumahnya sekitar pukul 05.30 WIB.
Korban, yang merupakan pelajar kelas 1 SMA, pertama kali ditemukan oleh ayahnya. Meski pihak kepolisian dari Polsek Simanindo telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan tidak menemukan tanda-tanda mencurigakan, tragedi ini memicu reaksi keras dari tokoh nasional asal Sumatera Utara.
Baca: Ini 5 Kutipan Inspiratif Ganjar Pranowo Tentang Anak Muda
Ketua DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara, Rapidin Simbolon, menyampaikan duka cita mendalam atas peristiwa tersebut.
Namun, ia juga melontarkan kritik pedas karena menduga tekanan ekonomi menjadi pemicu utama korban kehilangan harapan hidup.
"Jika benar faktor ekonomi menjadi pemicunya, maka ini adalah kegagalan negara dalam menjalankan tanggung jawab konstitusional. Kalau seorang anak sampai kehilangan harapan hidup karena tekanan ekonomi, itu menandakan negara tidak hadir," tegas Rapidin.
Rapidin mengingatkan bahwa sesuai Pasal 34 ayat (1) UUD 1945, negara wajib memelihara fakir miskin dan anak-anak telantar melalui perlindungan sosial. Ia menilai Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Samosir tidak peka terhadap penderitaan rakyat di tengah dampak kemarau panjang.
Dalam pernyataannya, Rapidin menyoroti kebijakan anggaran daerah yang dinilai tidak berpihak pada rakyat kecil. Ia membandingkan kondisi kemiskinan warga dengan pengeluaran pemerintah untuk hal-hal yang bersifat seremonial dan kemewahan.
Hiburan Mewah: Rapidin menyayangkan penggunaan anggaran miliaran rupiah untuk mendatangkan band papan atas.
Mobil Dinas Mahal: Ia mengkritik pengadaan mobil dinas kepala daerah yang nilainya mencapai sekitar Rp3,1 miliar.
Masalah Bansos: Ia menyinggung adanya dugaan korupsi pemotongan bantuan sosial oleh oknum Dinas Sosial bagi masyarakat terdampak bencana di wilayah Sihotang.
Baca: Ganjar Pranowo Tak Ambil Pusing Elektabilitas Ditempel Ketat
"Di saat rakyat berjuang memenuhi kebutuhan dasar, pemerintah justru mempertontonkan kemewahan. Ini bukan hanya soal kebijakan yang keliru, melainkan soal hilangnya empati," lanjutnya.
Mantan Bupati Samosir ini juga mengkritik intensitas perjalanan dinas kepala daerah yang dianggap terlalu sering berada di luar daerah, sehingga jarang turun langsung melihat kondisi lapangan. Menurutnya, hal ini menyebabkan pemerintah kehilangan pemahaman terhadap penderitaan rakyatnya sendiri.
Rapidin mendesak pemerintah pusat untuk segera turun tangan menangani persoalan kemiskinan di daerah tersebut.
"Kalau pemerintah daerah tidak mampu, maka pemerintah pusat harus hadir. Jangan sampai tragedi seperti ini terus berulang hanya karena negara terlambat bertindak," pungkas Rapidin.

















































































