Ikuti Kami

Waspada Tren Perlambatan Industri Pengolahan dan Pertanian, Banggar DPR Dorong Penguatan Ekonomi Nasional

Sektor sekunder seperti industri pengolahan membutuhkan perhatian khusus karena memiliki andil besar dalam penyerapan tenaga kerja formal.

Waspada Tren Perlambatan Industri Pengolahan dan Pertanian, Banggar DPR Dorong Penguatan Ekonomi Nasional
Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah.

Jakarta, Gesuri.id — Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, meminta pemerintah untuk mewaspadai perlambatan pertumbuhan sektor industri pengolahan di tengah capaian positif ekonomi nasional yang tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal II 2026.

Meskipun pertumbuhan ekonomi secara umum patut disyukuri di tengah ketidakpastian global dan gejolak geopolitik, Said menilai sektor sekunder seperti industri pengolahan membutuhkan perhatian khusus karena memiliki andil besar dalam penyerapan tenaga kerja formal.

Baca: Ini Resep Ganjar Pranowo Yang Selalu Fit dan Bugar

"Namun kita harus mewaspadai melambatnya pertumbuhan industri pengolahan," ujar Said dalam keterangannya, dikutip Minggu (9/8/2026).

Berdasarkan data yang dipaparkan, sektor industri pengolahan pada kuartal I 2026 tumbuh sebesar 5,04 persen, namun melambat menjadi 4,52 persen pada kuartal II 2026.

Said menjelaskan, industri pengolahan memegang peranan krusial bagi perekonomian Indonesia karena menyumbang sekitar 18,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Selain itu, sektor ini menjadi tumpuan bagi sekitar 13,5 persen tenaga kerja nasional sekaligus mencerminkan sebagian besar penyerapan tenaga kerja formal.

Ia mengingatkan, perlambatan berkepanjangan pada sektor ini dikhawatirkan dapat memengaruhi kapasitas penyerapan tenaga kerja formal serta memperlambat penciptaan lapangan kerja berkualitas. Oleh karena itu, pemerintah didorong untuk memperkuat iklim usaha, khususnya pada sektor industri dan perdagangan besar, guna merangsang ekspansi kegiatan bisnis.

Selain industri pengolahan, Said turut menyoroti perlambatan yang terjadi pada sektor pertanian. Sektor pertanian yang sebelumnya tumbuh 4,97 persen pada kuartal I 2026, melambat menjadi 3,8 persen pada kuartal II 2026. Sektor ini dinilai sangat vital karena menyumbang 13,57 persen terhadap PDB dan menyerap sekitar 28,75 persen tenaga kerja nasional.

Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga juga mengalami koreksi pertumbuhan dari 5,52 persen pada kuartal I menjadi 5,05 persen pada kuartal II 2026. Kendati demikian, konsumsi rumah tangga dinilai masih menunjukkan performa yang tangguh sebagai penyangga utama ekonomi dengan kontribusi sekitar 53,3 persen terhadap PDB.

Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar 

Sementara itu, komponen investasi barang modal atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tercatat tumbuh 6,87 persen. Kinerja ekspor juga menunjukkan perbaikan signifikan dengan tumbuh 4,13 persen pada kuartal II 2026, meningkat tajam dibanding kuartal sebelumnya yang hanya tumbuh 0,9 persen.

Di akhir pandangannya, Said menekankan agar pemerintah tidak hanya fokus mengejar angka pertumbuhan statistik semata, melainkan juga memastikan struktur pertumbuhan ekonomi mampu memperluas lapangan kerja dan mendongkrak kesejahteraan masyarakat secara merata.

Quote