Ikuti Kami

Merawat Semangat Kebangsaan: Abidin Fikri Tekankan Kesadaran Kolektif dalam Sosialisasi Empat Pilar

Ia juga mendorong para mahasiswa sebagai elemen kritis untuk terus mengawal penegakan hukum dan melawan ketidakadilan.

Merawat Semangat Kebangsaan: Abidin Fikri Tekankan Kesadaran Kolektif dalam Sosialisasi Empat Pilar
Anggota MPR/DPR RI, Dr. H. Abidin Fikri.

Bandung, Gesuri.id — Anggota MPR/DPR RI, Dr. H. Abidin Fikri, menekankan pentingnya kesadaran bersama untuk memahami rangkaian proses historis lahirnya gagasan kebangsaan dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Penegasan tersebut disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang diinisiasi oleh komunitas Nyala Muda di Bandung, Minggu (9/8).

Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah elemen masyarakat, mulai dari aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), hingga Kelompok Perempuan Mandiri (KPM) Dewi Sartika. Acara tersebut juga menghadirkan akademisi dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Nurholis, S.Ag., M.Ud., sebagai penanggap.

Baca: Ganjar Bangga dengan Kualitas Bahan Aspal Karya Anak Bangsa

Abidin Fikri menguraikan perjalanan sejarah proklamasi kemerdekaan oleh para founding fathers, proses kelahiran Pancasila, UUD 1945, NKRI, serta semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai fondasi bernegara.

Menanggapi pertanyaan serta kritik dari salah satu peserta terkait realitas praktik penyelenggaraan negara, politisi PDI Perjuangan ini memberikan pandangannya.

"Bahwa banyak praktik penyelenggara negara yang tak sesuai dengan amanat para pendiri bangsa, bukan berarti Empat Pilar yang menjadi legacy para pendahulu tersebut tidak berguna. Hal ini justru memerlukan upaya terus-menerus dari kita sebagai generasi penerus untuk mewujudkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan nyata," ujar Abidin.

Ia juga mendorong para mahasiswa sebagai elemen kritis untuk terus mengawal penegakan hukum dan melawan ketidakadilan, termasuk praktik korupsi, agar lembaga penegak hukum dapat bekerja sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Sementara itu, narasumber penanggap, Nurholis yang merupakan dosen Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung, menyoroti tantangan implementasi konsepsi kenegaraan di tengah kultur generasi muda yang lekat dengan gawai (gadget). Ia mengutip ungkapan filosof Prancis bahwa orang yang sedang lapar tidak akan mau mendengar, yang merefleksikan situasi ketidakadilan sosial di tengah masyarakat.

Baca: Ini 7 Fakta Unik & Menarik Tentang Ganjar Pranowo

Menurutnya, tantangan utama konsepsi bernegara saat ini adalah bagaimana mewujudkan keadilan sosial secara nyata sebagaimana diamanatkan dalam sila kelima Pancasila.

Menanggapi hal tersebut, Abidin kembali menggarisbawahi pentingnya peran aktif masyarakat, khususnya kalangan muda yang hadir dalam forum tersebut, untuk terus mengawal kebijakan publik.

Di akhir acara, Abidin mengingatkan bahwa kegiatan sosialisasi ini bukan sekadar forum seremonial. Meskipun tidak serta-merta menyelesaikan seluruh persoalan sosial yang ada, forum ini diharapkan menjadi wadah bagi warga bangsa untuk saling mengingatkan serta menyatukan pandangan dalam menghadapi berbagai tantangan kebangsaan di masa depan.

Quote