Jakarta, Gesuri.id - Bupati Sanggau Drs. Yohanes Ontot, M.Si., menegaskan penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kabupaten Sanggau merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat melalui sinergi pentahelix.
“Semua harus bergerak dalam satu komando, satu koordinasi dan satu tujuan, yaitu menyelamatkan masyarakat serta mencegah meluasnya bencana,” tegasnya.
Penegasan tersebut disampaikan Yohanes saat memimpin Apel Gelar Pasukan Tanggap Darurat Karhutla Tahun 2026 di Halaman Kantor Bupati Sanggau, Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Ilir Kota, Kecamatan Kapuas, Senin (31/8/2026).
Apel tersebut dihadiri Wakil Bupati Sanggau Susana Herpena, S.Sos., M.H., Kasdim 1204/Sanggau Mayor Arm Duloh, Kapolres Sanggau AKBP Kadek Ary Mahardika, S.I.K., M.H., Danyonif TP 833/Bumi Daranante Letkol Inf Riska Imron Rosadi, S.I.P., unsur Forkopimda, perangkat daerah, instansi terkait, dunia usaha, organisasi pemadam kebakaran, serta berbagai unsur relawan.
Dalam amanatnya, Yohanes menyampaikan bahwa selama periode Juli hingga Agustus 2026 tercatat sebanyak 10.089 titik panas (hotspot) yang tersebar di seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Sanggau.
Menurutnya, tingginya jumlah titik panas tersebut menunjukkan ancaman Karhutla masih tinggi sehingga membutuhkan penanganan yang cepat, terpadu, terukur, dan berkelanjutan.
Sebagai langkah penanganan, Pemerintah Kabupaten Sanggau telah menetapkan Status Tanggap Darurat melalui Keputusan Bupati Sanggau Nomor 269/BPBD/2026.
Pemkab Sanggau juga telah membentuk Komando Satuan Tugas Penanganan Bencana Asap Akibat Karhutla melalui Keputusan Bupati Sanggau Nomor 270/BPBD/2026.
Apel gelar pasukan tersebut melibatkan ratusan personel dari berbagai unsur. Mereka terdiri atas Kodim 1204/Sanggau, Polres Sanggau, Yonif TP 833/Bumi Daranante, Brimob, Satpol PP, BPBD, Manggala Agni, KPH, PMI, Tagana, Dinas Kesehatan, dunia usaha, organisasi pemadam kebakaran, serta unsur lainnya.
Yohanes menekankan sejumlah prioritas dalam penanganan Karhutla, mulai dari memperkuat pencegahan dan deteksi dini, mempercepat respons serta pemadaman di lapangan, hingga melindungi masyarakat dari dampak asap.
Koordinasi hingga tingkat desa juga menjadi perhatian penting. Selain itu, penegakan aturan terhadap praktik pembakaran lahan secara ilegal serta penguatan peran dunia usaha dinilai perlu terus dilakukan untuk menekan risiko Karhutla.
Dalam kesempatan tersebut, Yohanes turut mengapresiasi dukungan dunia usaha dalam penanganan Karhutla di Kabupaten Sanggau.
Salah satunya melalui bantuan 10 unit mesin pemadam kebakaran dari PT Finantara Intiga, serta kontribusi positif dari PT ASP dan PT PLN Indonesia Power UBP Sanggau.
Menurutnya, dukungan berbagai pihak tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat kapasitas penanganan Karhutla, terutama dalam menghadapi potensi meluasnya kebakaran dan dampak asap terhadap masyarakat.
Melalui apel gelar pasukan ini, seluruh unsur penanganan Karhutla di Kabupaten Sanggau diharapkan semakin siap dan solid dalam menghadapi ancaman bencana.
Sinergi antara pemerintah, TNI-Polri, dunia usaha, organisasi pemadam kebakaran, relawan, hingga masyarakat menjadi kunci untuk mencegah kebakaran meluas sekaligus melindungi keselamatan warga.
Pemerintah Kabupaten Sanggau menargetkan seluruh unsur dapat bergerak cepat dan terkoordinasi sehingga ancaman Karhutla dapat ditekan serta Kabupaten Sanggau semakin tangguh dalam menghadapi bencana.

















































































