Ikuti Kami

Aktivis Gen Z Lily Faidatin: Generasi Muda Harus Melek Sejarah, Jangan Glorifikasi Soeharto

Di linimasa saya ramai banget soal Soeharto mau dijadikan pahlawan. Banyak teman-teman Gen Z yang belum tahu siapa Soeharto sebenarnya.

Aktivis Gen Z Lily Faidatin: Generasi Muda Harus Melek Sejarah, Jangan Glorifikasi Soeharto
Aktivis Gen Z NU Lily Faidatin (tengah) - Foto: Capture Youtube TV 9 Nusantara

Ciputat, Gesuri.id – Aktivis Gen Z sekaligus santri muda NU, Lily Faidatin, menilai forum-forum diskusi tentang Orde Baru penting untuk membuka kesadaran generasi muda terhadap sejarah kelam bangsa. Ia menegaskan, generasi pasca-Reformasi harus berani bersuara dan tidak terjebak dalam glorifikasi terhadap sosok Presiden Soeharto.

“Bayangkan, di masa Orde Baru jangankan membuat forum seperti ini, untuk bersuara saja sudah dibungkam. Hari ini kita bisa bicara bebas, dan itu harus kita syukuri dengan cara memahami sejarah secara utuh,” ujar Lily dalam diskusi publik “NU, PNI, dan Kekerasan Orde Baru” di Ciputat, Jumat (7/11) sore.

Lily menyoroti fenomena ramainya perbincangan di media sosial terkait rencana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto. Ia menyayangkan sebagian anak muda yang memandang Soeharto hanya dari sisi pembangunan, tanpa mengetahui sisi gelap kekuasaan yang penuh penindasan.

“Di linimasa saya ramai banget soal Soeharto mau dijadikan pahlawan. Banyak teman-teman Gen Z yang belum tahu siapa Soeharto sebenarnya. Ini bahaya, karena sejarah yang tidak dipelajari bisa diulang,” tegasnya.

Sebagai generasi yang lahir setelah kejatuhan Orde Baru, Lily mengakui dirinya baru mengenal sejarah Soeharto saat kuliah di Yogyakarta, kota yang menurutnya memiliki tradisi literasi yang kuat. Dari bacaan dan forum-forum diskusi itulah ia memahami bagaimana kekuasaan Soeharto dijalankan dengan cara yang otoriter.

“Saya tahu Soeharto bukan dari cerita orang tua, tapi dari buku dan forum diskusi. Dari situ saya belajar bahwa Soeharto bukan sekadar presiden yang membangun, tapi juga simbol kekuasaan yang membungkam rakyat,” ungkapnya.

Lily menegaskan, generasi muda hari ini harus belajar dari sejarah agar tidak mudah terperangkap narasi romantisasi Orde Baru. “Kita boleh menghargai masa lalu, tapi jangan buta sejarah. Reformasi lahir karena ada luka panjang yang ditinggalkan Soeharto,” tutupnya.

Quote