Ikuti Kami

Aktivis Virdian Aurellio: Jangan Biarkan Sejarah Dipelintir, Soeharto Tak Layak Jadi Pahlawan

Virdian: upaya menjadikan Soeharto sebagai pahlawan nasional adalah bentuk pemutarbalikan sejarah.

Aktivis Virdian Aurellio: Jangan Biarkan Sejarah Dipelintir, Soeharto Tak Layak Jadi Pahlawan
Virdian Aurellio (tengah) - Foto: Alvin/Gesuri.id

Jakarta, Gesuri.id — Aktivis sekaligus influencer dan mantan Ketua BEM Universitas Padjadjaran (Unpad) Virdian Aurellio menegaskan bahwa upaya menjadikan Soeharto sebagai pahlawan nasional adalah bentuk pemutarbalikan sejarah. Hal itu ia sampaikan dalam Diskusi Publik “#SoehartoBukanPahlawan” yang digelar di Jakarta, Rabu (5/11).

Menurut Virdian, generasi muda saat ini, terutama Gen Z, memiliki kesadaran kritis terhadap hak asasi manusia dan sejarah bangsanya. “Generasi kita ini paling ngerti haknya sebagai manusia dan warga negara. Jadi kalau masih ada yang mencoba glorifikasi Soeharto, artinya doktrin Orde Baru masih berhasil menyusup ke masyarakat,” ujarnya.

Ia menilai, stabilitas dan kemakmuran yang sering digembar-gemborkan sebagai keberhasilan Soeharto hanyalah ilusi yang dibangun dengan cara-cara represif dan penuh darah. “Swasembada pangan yang dibanggakan itu sebenarnya berdarah. Banyak masyarakat di luar Jawa yang dipaksa menanam padi demi citra keberhasilan Soeharto,” tegas Virdian.

Lebih jauh, Virdian mengungkapkan bahwa banyak kebijakan ekonomi di masa Orde Baru justru menjual kedaulatan bangsa kepada pihak asing. “Freeport diberikan ke Amerika, industri mobil dikuasai Jepang. Ini menunjukkan Soeharto membangun dengan utang dan menjual negeri sendiri,” katanya.

Ia juga menyinggung sejarah kelam pelanggaran HAM, mulai dari penembakan misterius (petrus), pembungkaman aktivis, hingga kebijakan transmigrasi yang memicu konflik sosial di berbagai daerah. “Tragedi seperti Sampit tak bisa dilepaskan dari kebijakan Soeharto yang memaksakan asimilasi tanpa memahami budaya lokal,” jelasnya.

Menurut Virdian, hingga akhir hayatnya, Soeharto tak pernah mempertanggungjawabkan kejahatan dan korupsi yang dilakukannya. “Dana triliunan hasil korupsi masih disembunyikan entah di mana, sementara keluarga Cendana masih menguasai tanah luas di negeri ini,” ujarnya.

Ia menyinggung pula munculnya kembali tokoh-tokoh keluarga Cendana di dunia politik, seperti Tommy Soeharto, sebagai ironi sejarah. 

“Bayangkan, dulu dia dihukum karena membunuh hakim, tapi sekarang bisa jadi ketua partai. Ini bukti bahwa warisan Orde Baru belum benar-benar berakhir,” kata Virdian.

Di akhir pernyataannya, Virdian berharap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tidak mengulang kesalahan masa lalu. “Kami berharap Presiden hari ini menjadi pemimpin untuk generasi masa kini, bukan meneruskan pola Soeharto. Kalau beliau diam terhadap upaya pemutihan sejarah, itu sama saja melanjutkan Orde Baru dalam bentuk baru,” tutupnya.

Diskusi publik ini menjadi salah satu rangkaian gerakan penolakan terhadap wacana pemberian gelar pahlawan nasional kepada Soeharto, yang diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, aktivis 98, akademisi, dan anak muda lintas generasi.

Quote