Ikuti Kami

Hasto: Jangan Pernah Kooptasi NU demi Ambisi Politik, Penguasa Akan Menuai Karma Politik

NU adalah benteng teologis dan moral. Jangan pernah pecah-belah NU, jangan pernah kooptasi NU demi ambisi berkuasa.

Hasto: Jangan Pernah Kooptasi NU demi Ambisi Politik, Penguasa Akan Menuai Karma Politik
Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto dalam forum diskusi kebangsaan dan ke-NU-an di Jakarta, Jumat (24/7/2026) - Foto: DPP PDI Perjuangan

Jakarta, Gesuri.id – Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengingatkan penguasa agar tidak mengintervensi Nahdlatul Ulama (NU) demi kepentingan politik praktis menjelang pelaksanaan Muktamar NU. Menurutnya, NU merupakan benteng moral dan teologis bangsa yang harus dijaga independensinya dari kepentingan kekuasaan.

Peringatan tersebut disampaikan Hasto dalam forum diskusi kebangsaan dan ke-NU-an di Jakarta, Jumat (24/7/2026). Ia menegaskan bahwa sejarah telah menunjukkan NU selalu hadir sebagai kekuatan moral bangsa, sehingga tidak boleh dijadikan alat untuk melanggengkan kekuasaan.

"NU adalah benteng teologis dan moral. Jangan pernah pecah-belah NU, jangan pernah kooptasi NU demi ambisi berkuasa. Mereka yang mencoba menarik NU dalam kepentingan politik praktis dengan campur tangan kekuasaan, niscaya akan menerima karma politik," kata Hasto.

Menurut Hasto, menjelang Muktamar NU seluruh elemen bangsa harus menghormati kemandirian organisasi tersebut. Ia mengajak seluruh warga NU kembali meneguhkan Khittah 1926 sebagaimana diputuskan pada Muktamar Situbondo 1984, yakni menempatkan NU sebagai organisasi keagamaan dan sosial kemasyarakatan yang menjadi penuntun moral bangsa.

Hasto mengatakan, simbol Bintang Sembilan dan Tali Jagat yang dimiliki NU bukan sekadar identitas organisasi, tetapi mengandung filosofi Islam rahmatan lil alamin yang memiliki visi kebangsaan dan peradaban dunia.

"NU terlalu besar untuk dipersempit hanya menjadi instrumen politik sesaat. NU adalah milik umat, milik Indonesia, bahkan menjadi rujukan dunia Islam moderat," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Hasto juga mengulas hubungan historis antara kaum nasionalis dan NU sejak masa perjuangan kemerdekaan. Ia menyebut kolaborasi Bung Karno dengan para ulama, termasuk KH Hasyim Asy'ari, menjadi fondasi kuat berdirinya Republik Indonesia.

"NU dan PDI Perjuangan, bersama TNI, adalah pemegang panji Republik ini. Kita dipersatukan oleh cita-cita yang sama tentang Indonesia, meski berangkat dari perspektif yang berbeda," katanya.

Menurut Hasto, semangat tersebut harus terus dijaga agar bangsa Indonesia tidak kembali terjebak pada politik adu domba yang memecah belah kekuatan rakyat.

Menutup pidatonya, Hasto berharap NU tetap tampil sebagai penjaga moral bangsa, pembela kemanusiaan, dan pengawal keadilan di tengah berbagai tantangan nasional.

"Jadikan NU sebagai penjaga moral, pejuang bagi kemanusiaan, kebenaran, dan keadilan. NU adalah milik Indonesia dan dunia," pungkasnya.

Quote