Ikuti Kami

HUT ke-244 Kota Tenggarong, Aulia Rahman Pimpin Ziarah ke Makam Sultan Aji Imbut

Ziarah ke makam pendiri Kota Tenggarong, Sultan Aji Imbut, serta makam para raja Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura

HUT ke-244 Kota Tenggarong, Aulia Rahman Pimpin Ziarah ke Makam Sultan Aji Imbut
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengatakan, ziarah tersebut menjadi momentum untuk mengenang jasa para pendahulu, khususnya Sultan Aji Imbut - Foto: Pemkab Kukar

Tenggarong, Gesuri.id - Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) melaksanakan ziarah ke makam pendiri Kota Tenggarong, Sultan Aji Imbut, serta makam para raja Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Selasa (29/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung di kompleks makam raja-raja Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-244 Kota Tenggarong.

Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengatakan, ziarah tersebut menjadi momentum untuk mengenang jasa para pendahulu, khususnya Sultan Aji Imbut yang memiliki peran penting dalam sejarah berdirinya Kota Tenggarong.

Menurutnya, keberadaan Tenggarong sebagai pusat pemerintahan tidak terlepas dari perjalanan panjang yang dilakukan Sultan Aji Imbut. Salah satunya adalah pemindahan pusat pemerintahan dari Pemarangan ke Tepian Pandan.

“Kegiatan ziarah ini mengingatkan kita pada beberapa hal. Pertama, bahwa Kota Tenggarong ini tidak serta-merta ada seperti yang kita lihat pada hari ini. Ada perjuangan panjang yang dilakukan oleh seseorang yang kita sebut dengan Aji Imbut, di mana beliau memindahkan pusat pemerintahan dari Pemarangan ke Tepian Pandan, yang selanjutnya disebut dengan Tangga Arung atau rumah raja, dan sekarang kita kenal dengan daerah Tenggarong,” ujarnya.

Aulia menyebut, perpindahan tersebut juga memberikan pelajaran mengenai keberanian untuk melakukan perubahan demi mencapai keadaan yang lebih baik.

“Kedua, pelajaran yang bisa kita ambil adalah hijrah atau perpindahan itu menjadi suatu keniscayaan untuk sesuatu yang lebih baik,” katanya.

Ia menjelaskan, pada masa itu kondisi Pemarangan sudah tidak kondusif, terutama setelah terjadi pemberontakan. Sultan Aji Imbut kemudian kembali dari tanah Wajo untuk mengambil kembali takhta yang telah diambil alih.

Quote