Ikuti Kami

Merah Muda Sehat: Menjaga Pikiran, Menguatkan Generasi

Satu unggahan dapat membuat seseorang merasa tertinggal. Satu pencapaian teman bisa berubah menjadi ukuran atas kegagalan diri sendiri.

Merah Muda Sehat: Menjaga Pikiran, Menguatkan Generasi
Iustrasi - Foto: Istimewa

ADA masa ketika anak muda dituntut selalu terlihat kuat. Sedih disimpan, cemas disembunyikan, dan lelah dianggap bagian biasa dari perjuangan. Padahal, tidak semua luka terlihat dari luar.

Generasi Z tumbuh dalam dunia yang bergerak sangat cepat. Mereka berhadapan dengan tuntutan akademik, persaingan kerja, tekanan ekonomi, persoalan relasi, sekaligus arus media sosial yang tidak pernah benar-benar berhenti.

Satu unggahan dapat membuat seseorang merasa tertinggal. Satu pencapaian teman bisa berubah menjadi ukuran atas kegagalan diri sendiri. Dunia digital membuat perbandingan hidup berlangsung hampir setiap saat.

Survei Jakpat pada Desember 2024 terhadap 1.155 Gen Z Indonesia menunjukkan kecemasan dialami oleh 37 persen responden. Data tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kesehatan mental bukan lagi percakapan yang berada di pinggir kehidupan anak muda.

Temuan lain juga memperlihatkan besarnya persoalan tersebut. I-NAMHS mencatat sekitar 34,9 persen remaja Indonesia atau 15,5 juta orang mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir.

Angka itu seharusnya tidak membuat kita memberi label kepada satu generasi sebagai generasi yang lemah. Sebaliknya, angka tersebut mengajak kita bertanya: apakah lingkungan sosial kita sudah cukup kuat untuk menopang anak-anak muda yang sedang bertumbuh?

Pertanyaan itu penting karena kesehatan mental tidak hanya berbicara tentang individu. Ia juga berkaitan dengan keluarga, sekolah, kampus, tempat kerja, komunitas, lingkungan pertemanan, hingga ruang digital tempat anak muda menghabiskan sebagian hidupnya.

Di sinilah gagasan resilient mindset menjadi penting. Ketahanan mental bukan berarti seseorang tidak pernah menangis, tidak pernah takut, atau selalu mampu menyelesaikan persoalan sendirian.

Ketahanan justru lahir ketika seseorang mampu mengenali emosinya, menerima keterbatasannya, mencari pertolongan, kemudian bangkit dengan dukungan lingkungan. Menjadi kuat bukan berarti berjalan sendirian.

Karena itu, stigma terhadap kesehatan mental perlu perlahan diruntuhkan. Meminta bantuan psikologis bukan tanda kegagalan, sebagaimana bercerita kepada teman ketika sedang tertekan bukan sesuatu yang memalukan.

Di berbagai kampus dan komunitas urban, semangat itu mulai menemukan bentuk melalui peer support group. Anak muda menciptakan ruang sebaya untuk mendengar, berbagi pengalaman, dan menemani mereka yang sedang menghadapi tekanan.

Gerakan semacam itu memiliki arti penting. Tidak semua anak muda langsung merasa nyaman mendatangi profesional ketika pertama kali mengalami persoalan emosional, sehingga lingkungan sebaya dapat menjadi pintu awal untuk berbicara dan mengenali kebutuhan bantuan.

Namun, dukungan sebaya bukan pengganti psikolog atau psikiater. Ketika seseorang menghadapi persoalan serius, berkepanjangan, atau berisiko terhadap keselamatan dirinya, dukungan profesional tetap menjadi bagian penting dari proses pemulihan.

Tantangannya memang tidak sederhana. Data SKI 2023 menunjukkan prevalensi depresi pada kelompok usia 15–24 tahun mencapai 2 persen, sementara Kementerian Kesehatan juga mencatat akses terhadap penanganan masih menjadi persoalan.

Karena itu, gagasan collective healing menjadi relevan. Penyembuhan tidak selalu harus dimulai dari ruang konsultasi yang formal, tetapi dapat tumbuh dari lingkungan yang membuat seseorang merasa aman untuk berkata, “Saya sedang tidak baik-baik saja.”

Dalam konteks itulah berbagai platform kesehatan mental lokal, komunitas sebaya, organisasi mahasiswa, dan gerakan anak muda memiliki posisi strategis. Mereka dapat membantu menjadikan kesehatan mental sebagai percakapan sehari-hari, bukan topik yang baru dibicarakan ketika persoalan sudah menjadi krisis.

Semangat tersebut sesungguhnya memiliki benang merah dengan sejarah pemuda Indonesia. Para pemuda pada 1928 menghadapi tekanan kolonialisme dengan keteguhan untuk menemukan identitas bersama, sementara generasi hari ini menghadapi tekanan yang bentuknya lebih sunyi dan personal.

Jika pemuda 1928 membutuhkan ketahanan batin untuk memperjuangkan persatuan, Gen Z membutuhkan ketahanan emosional untuk menghadapi dunia yang penuh tekanan. Medannya berbeda, tetapi keberanian untuk bertahan dan saling menguatkan tetap menjadi nilai yang sama.

Sumpah Pemuda karena itu tidak hanya relevan ketika kita berbicara tentang persatuan bangsa. Ia juga dapat dibaca sebagai pengingat bahwa generasi muda membutuhkan ekosistem yang membuat mereka mampu tumbuh bersama, bukan saling menjatuhkan dalam perlombaan kehidupan.

Merah Muda Sehat akhirnya bukan sekadar tentang kesehatan mental. Ia adalah ajakan membangun generasi yang berani mengakui rasa lelah, berani meminta pertolongan, berani mendengarkan sesama, dan tetap percaya bahwa tidak seorang pun harus menghadapi hidup seorang diri.

Sebab Indonesia yang kuat tidak hanya dibangun oleh generasi yang berprestasi. Indonesia juga membutuhkan generasi yang sehat secara fisik, matang secara emosional, saling menjaga, dan memiliki keberanian untuk bangkit bersama.

Quote