Ikuti Kami

Nyoman Parta Angkat Banjar Kendran Jadi Ruang Penjaga Denyut Kebudayaan Bali Lewat Generasi Muda

“Kemanapun langkah kita semoga Kendran selalu menjadi alasan untuk pulang,” tulis Parta.

Nyoman Parta Angkat Banjar Kendran Jadi Ruang Penjaga Denyut Kebudayaan Bali Lewat Generasi Muda
Anggota Komisi III DPR RI Dapil Bali, I Nyoman Parta.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi III DPR RI Dapil Bali, I Nyoman Parta membagikan kisah inspiratif tentang semangat pelestarian seni dan budaya Bali melalui unggahan di akun Instagram pribadinya. Dalam unggahan tersebut, Parta mengangkat Banjar Kendran, Desa Kendran, Kecamatan Tegallalang, Gianyar, sebagai ruang yang terus menjaga denyut kebudayaan Bali melalui peran generasi mudanya.

“Kemanapun langkah kita semoga Kendran selalu menjadi alasan untuk pulang,” tulis Parta mengajak masyarakat melihat bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas yang harus terus dirawat bersama, Senin (3/8/2026).

Dalam narasinya, Parta menegaskan bahwa seni, budaya, dan pariwisata Bali merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Menurutnya, seni Bali telah lama menjadi fondasi utama berkembangnya pariwisata budaya di Pulau Dewata.

Meski demikian, ia menilai pembicaraan mengenai seni budaya kerap berhenti di ruang-ruang diskusi tanpa benar-benar mendengar suara para pelaku budaya yang selama ini bekerja langsung di lapangan. Perspektif tersebut kemudian diangkat oleh Widya Kendran, mahasiswi Visual Arts di Ringling College of Art and Design, Florida, Amerika Serikat, melalui karya fotografi yang mendokumentasikan kehidupan masyarakat di kampung halamannya.

Melalui karya tersebut, Widya mengangkat kisah Ni Wayan Ayu Agustini atau Ayu, perempuan yang sejak 2015 mendirikan Sekaa Tari Cening Ayu. Sanggar tari itu dibangun untuk membangkitkan kembali semangat anak-anak Banjar Kendran agar mencintai Tari Bali sejak usia dini. Selain menjadi tempat belajar menari, sekaa tersebut juga aktif mengajak anggotanya ngayah dalam berbagai upacara keagamaan di Pura Tri Kahyangan maupun Pura Griya Sakti Manuaba.

Bagi Ayu, mengajar tari bukan sekadar aktivitas mengisi waktu. Kecintaannya terhadap seni yang tumbuh sejak remaja membuatnya tetap setia menjadi pelatih, meski pekerjaan tersebut tidak selalu memberikan keuntungan secara materi.

Parta juga menyoroti hasil riset bertajuk Kisah Kasih yang mencatat ungkapan masyarakat Kendran, “tuyuh den maan”, yang berarti “yang didapat hanya capeknya saja.”

Ungkapan tersebut menggambarkan realitas para pelaku seni tradisi yang mengabdikan diri dengan penuh ketulusan meski sering kali tanpa imbalan yang sepadan. Menurut Parta, bagi Ayu dan para pelestari budaya lainnya, menjaga Tari Bali bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan jiwa untuk memastikan tradisi tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Di tengah era ketika hampir semua aktivitas diukur berdasarkan nilai ekonomi, perjuangan para pelaku seni tradisi menjadi simbol kepahlawanan masyarakat desa dalam menjaga identitas Bali.

Dalam unggahan itu, Parta juga menyampaikan apresiasi kepada Widya Kendran yang telah mengangkat kisah tersebut melalui pameran fotografi di Kulidan Kitchen and Space. Menurutnya, karya fotografi tidak hanya menjadi media seni, tetapi juga dokumentasi penting yang merekam perjuangan masyarakat dalam mempertahankan budaya Bali di tengah arus modernisasi.

Ia berharap semakin banyak masyarakat mengenal kisah-kisah seperti ini sehingga tumbuh kesadaran bersama untuk menghargai para pelaku seni tradisi, guru tari, dan komunitas budaya yang selama ini menjadi garda terdepan dalam menjaga warisan leluhur.

“Terima kasih Widya telah menjadikan kisah ini dalam bentuk pameran foto,” tulis Parta, seraya menegaskan bahwa kisah Ayu dan para perempuan desa adalah cerita tentang dedikasi, pengabdian, dan cinta kepada budaya Bali yang tidak boleh pernah padam.

Quote