Ikuti Kami

Sentil Ketamakan Manusia, Puisi Samuel Wattimena untuk Hutan Kalimantan Menyentuh Hati

Samuel prihatin atas kehancuran ekosistem rimba purba di jantung Khatulistiwa yang kian terancam oleh lautan api & asap pekat.

Sentil Ketamakan Manusia, Puisi Samuel Wattimena untuk Hutan Kalimantan Menyentuh Hati

Jakarta, Gesuri.id - Anggota DPR RI, Samuel Wattimena, menyampaikan kritik tajam terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan melalui sebuah puisi mendalam yang diunggah di akun Instagram pribadinya.

​Melalui bait-bait puisinya, Samuel menyuarakan keprihatinan atas kehancuran ekosistem rimba purba di jantung Khatulistiwa yang kian terancam oleh lautan api dan asap pekat. 

Politisi  PDI Perjuangan ini menyoroti bagaimana keserakahan manusia sering kali menutup mata dari bencana lingkungan yang diciptakannya sendiri.

Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu

​"Tadkala hutan menghijau, kita menyebutnya lahan. Tadkala pohon menjulang, kita menghitung kubiknya. Namun, tadkala semuanya menjadi abu, kita berdiri di hadapan kamera dan menyebutnya musibah," tulis Samuel dalam puisinya.

​Ia juga menyentil kecenderungan masyarakat dan pemangku kepentingan yang kerap berdebat mengenai batasan wilayah, suku, hingga agama saat bencana melanda, padahal dampak asap dan kerusakan lingkungan tidak pernah mengenal batas-batas tersebut.  

​Di akhir pesannya, Samuel mengajak masyarakat untuk mengendalikan ketamakan diri—hal yang ia sebut sebagai sesuatu yang paling mudah terbakar namun paling sukar dipadamkan—agar generasi mendatang tidak hanya mengenal Kalimantan sebagai legenda belantara yang pernah hijau semata.

Quote