Jakarta, Gesuri.id – Beberapa hari yang lalu, penulis menyaksikan tayangan di salah satu kanal media sosial televisi yang menampilkan beberapa kisah fiksi (khayal). Di antaranya menyangkut pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dengan Sang Proklamator, Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Sukarno, yang dikenal juga dengan panggilan Bung Karno.
Dalam isi tayangan tersebut, Bung Karno menasihati Presiden Prabowo agar waspada dalam hari-hari mendatang pemerintahannya. Berbagai nasihat, saran, bahkan perintah diberikan oleh Bung Karno kepada Prabowo. Salah satu puncak tayangannya adalah saat Presiden Prabowo diajak Bung Karno ke lorong-lorong dan ruang rahasia yang berada di bawah atau kolong Istana Merdeka, Jakarta. Di kedalaman lorong tersebut, Bung Karno menyatakan bahwa Presiden Prabowo sudah siap menghadapi tantangan apa pun yang menghadang pemerintahannya di masa depan.
Tayangan lain yang menggelitik hati penulis adalah adanya pertemuan antara Nyi Roro Kidul, penguasa Laut Selatan atau Samudra Indonesia, dengan Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa. Dalam pertemuan tersebut, Nyi Roro Kidul juga menasihati Menteri Keuangan agar waspada dan siap menghadapi gejolak moneter yang akan melanda Nusantara.
Hal yang menarik bagi penulis adalah: mengapa tayangan tersebut mengambil sosok Presiden Sukarno dan Nyi Roro Kidul? Serta mengapa sosok yang ditampilkan adalah Presiden Prabowo dan Menteri Keuangan Purbaya? Mungkin karena keduanya sedang menjadi sorotan publik dan media karena kepemimpinannya. Adakah rasa kebanggaan terhadap tokoh-tokoh tersebut oleh si pembuatnya?
Atau sebaliknya, hal ini menunjukkan kekhawatiran terhadap Presiden Prabowo dan Menteri Keuangan Purbaya sehingga perlu menonjolkan ketokohan Bung Karno dan Nyi Roro Kidul agar mereka jauh lebih siap, kuat, dan tahan banting menghadapi segala persoalan serta gonjang-ganjing politik, hukum, ekonomi, sosial, dan keamanan. Terutama demi kesejahteraan dan kemakmuran bangsa yang dipimpinnya sekarang di Indonesia, atau dalam skala lebih kecil di Kementerian Keuangan. Penulis tidak berani menduga lebih jauh.
Dalam tayangan tersebut, seperti dalam berbagai lukisan dan penggambaran, Nyi Roro Kidul memang tampak sangat cantik dan berbusana ala penari wanita wayang purwa. Penulis jadi berpikir, siapa yang memerankan sosok Nyi Roro Kidul tersebut? Sebagai fotografer, penulis ingin memotret yang bersangkutan sebagai foto model.
Dalam cerita fiksi tersebut, ditayangkan pertemuan antara Nyi Roro Kidul dengan Menteri Keuangan Kabinet Merah Putih yang dikenal karena sifatnya yang tegas, berani, dan blak-blakan. Pertemuan itu diceritakan terjadi di ruang kerja Menteri Keuangan di Lapangan Banteng, Jakarta. Pertemuan tersebut terjadi berulang kali sebanyak enam kali, dan diakhiri dengan pertemuan di tepi Laut Selatan Jawa.
Ada Apa di Bawah Istana?
Komentar pertama saya sebagai putra sulung Presiden Sukarno—yang sejak 1949 hingga 1967 tinggal dan menghabiskan masa kanak-kanak hingga dewasa di lingkungan Istana Kepresidenan Jakarta—adalah mengenai keberadaan lorong dan ruang rahasia di kolong Istana Merdeka. Walaupun tidak akurat secara mendetail, tayangan itu ada benarnya bahwa memang terdapat kolong atau ruang bawah tanah rahasia di Istana Merdeka.
Bahkan setahu penulis, tak hanya kolong di Istana Merdeka yang menghadap Tugu Monas di Jalan Medan Merdeka Utara, tetapi juga di Istana Negara yang berada di selatannya, menghadap anak kali Ciliwung atau di depan Jalan Veteran. Sepengetahuan penulis, di bawah istana peninggalan kolonial Belanda lainnya, seperti Istana Bogor dan Istana Cipanas, juga terdapat lorong-lorong bawah tanah.
Di bawah Istana Bogor, misalnya, penulis sudah pernah masuk karena disebut-sebut sebagai bekas ruang tahanan Belanda dan Jepang. Ruang bawah tanah di Istana Cipanas juga ada, meskipun tidak terlalu besar dan penulis belum pernah mencoba masuk. Posisinya konon berada di sebelah kiri bawah gedung utama Istana Cipanas.
Jika merujuk cerita asisten Istana Kepresidenan yang pernah membantu Bung Karno dahulu, bahkan disebut ada lorong bawah tanah dari sisi timur Istana Merdeka hingga ke Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral. Lorong tersebut peninggalan Belanda dan berbeda dengan Terowongan Silaturahmi yang baru dibangun pada era Presiden Joko Widodo dan diresmikan pada 12 Desember 2024 lalu oleh Presiden Prabowo.
Keberadaan lorong-lorong bawah tanah tersebut tentunya tidak akan dipahami oleh masyarakat umum jika belum pernah mengunjunginya. Bahkan para pengawal Istana yang dahulu disebut DKP (Detasemen Kawal Pribadi) atau yang saat ini disebut Paspampres (Pasukan Pengamanan Presiden) tidak satu pun yang pernah masuk dan berkeliling di sana karena takut bertemu dengan apa yang mereka sebut sebagai "penunggu" Istana Kepresidenan.
Seingat penulis, dengan dikawal oleh Komandan DKP, Mangil Martowidjojo, penulis pernah memberanikan diri mengobservasi kolong Istana Merdeka secara keseluruhan. Hasilnya, Alhamdulillah, tidak bertemu dengan siapa-siapa kecuali tikus dan seekor kucing liar hitam pekat yang oleh Bung Karno diberi nama "Si Garong". Salah satu ruang bawah tanah di Istana Merdeka kemudian penulis gunakan sebagai ruang cetak foto hitam putih saat penulis mulai belajar fotografi.
Saat mengobservasi dan tiba di ujung lorong, ternyata jalannya buntu tertutup tanah. Menurut shohibul hikayat, bila tanah tersebut dikeruk, akan terbuka pintu lorong yang panjangnya mencapai kolong Masjid Istiqlal. Ruang dan lorong bawah tanah tersebut dibangun pemerintah kolonial Belanda sebagai tempat perlindungan dan pelarian. Jadi, bila Istana Merdeka—yang dulunya bernama Istana Gambir atau Paleis te Koningsplein—dikuasai musuh, Gubernur Jenderal Belanda dapat meloloskan diri.
Saat ini, penulis tidak tahu lagi informasi terbaru mengenai lorong tersebut. Terakhir yang penulis dengar, sebagian sudah ditutup. Di Istana Negara, lorong yang sempat menjadi tempat penyimpanan lukisan Bung Karno kini sudah ditutup. Namun, ada kabar sayup-sayup bahwa lorong di bawah Istana Merdeka justru akan dikembangkan lagi hingga ke Jalan Veteran III (bekas gedung DPA) yang kini digunakan oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Keistimewaan lain ada di Istana Bogor. Menurut penuturan pengawal DKP maupun Paspampres, bila tengah malam Jumat, akan terdengar suara hiruk-pikuk seakan sedang berlangsung sebuah hajat besar. Keesokan paginya, ketika pengawal hendak mengerek bendera, sering ditemukan puluhan tusuk sate bertebaran layaknya sehabis pesta. Hal tersebut menjadi keunikan Istana Bogor dibanding istana lainnya.
Menurut penulis, jika ruang bawah tanah tersebut tidak lagi digunakan, tidak ada salahnya jika dimanfaatkan kembali sebaik mungkin di tengah tingginya aktivitas pemerintahan Presiden Prabowo. Misalnya untuk penyimpanan lukisan dan koleksi Istana Kepresidenan, atau dijadikan gudang yang rapi, bersih, dan sehat, sehingga tidak menakutkan bagi siapa pun yang bekerja di sana. Memang butuh dana besar untuk renovasi, namun ini adalah bagian dari menjaga kekayaan negara peninggalan sejarah.
Rumah Tetirah di Pelabuhan Ratu
Mengenai munculnya Nyi Roro Kidul yang bertemu dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, jika hal tersebut digambarkan terjadi pada tahun 2026, maka beberapa dekade silam Bung Karno pun pernah "memanggil" Nyi Roro Kidul di sebuah kamar hotel di pesisir selatan Jawa Barat.
Sekitar tahun 1954, Bung Karno membangun sebuah rumah tetirah di pinggir pantai yang menghadap Teluk Pelabuhan Ratu dan "bertemu" secara metafisika dengan Nyi Roro Kidul. Ruang pertemuan itu, hingga terakhir penulis kunjungi, sudah berpindah ke sebuah kamar hotel yang dirawat khusus dengan sesajian. Kamar tersebut hingga kini masih terawat baik. Pada tahun 1980-an, penulis dan istri kerap menginap di hotel tersebut dan selalu menyempatkan diri berkunjung ke kamar tersebut.
Sayangnya, almarhum Bung Karno tidak pernah memberi tahu cara memanggil sang Ratu Kidul, sehingga yang penulis temui hanyalah kamar kosong yang terawat apik. Di samping hotel tersebut, terdapat pendopo tempat tamu menikmati hidangan dan pertunjukan ritual Debus.
Ada pula suguhan ikan khusus bernama "ikan mata sebelah". Percaya atau tidak, ikan tersebut memang hanya memiliki satu mata! Jika tidak percaya, datang saja berlibur ke Grand Inna Samudra Beach Hotel. Dan jangan lupa, kunjungi kamar Nyi Roro Kidul jika Anda berani!
Jakarta, 12 Januari 2026
Guntur Soekarno, Ketua Dewan Ideologi DPP PA GMNI / Pemerhati Sosial.

















































































