Diary Kemerdekaan: Jejak Harian Bung Karno Menuju 17 Agustus 1945
3 Agustus 1945
Konsolidasi Tokoh Bangsa di Jakarta
Setelah sidang BPUPKI berakhir, Bung Karno memimpin diskusi intensif bersama para tokoh pergerakan di Jakarta untuk menyiapkan transisi menuju kemerdekaan secara terencana dan terorganisir.
4 Agustus 1945
Perancangan Struktur PPKI
Bung Karno berkoordinasi dengan para pemimpin nasional dan pihak Jepang untuk menyusun komposisi PPKI, dengan menekankan keterwakilan tokoh dari seluruh Nusantara.
5 Agustus 1945
Finalisasi Anggota PPKI
Bersama Bung Hatta dan Mr. Achmad Soebardjo, Bung Karno merampungkan daftar anggota PPKI yang mewakili berbagai wilayah Indonesia, dari Sumatra hingga Papua.
6 Agustus 1945
Hiroshima Dibom, Misi Mendadak Dimulai
Saat bom atom dijatuhkan di Hiroshima, Bung Karno menerima panggilan mendadak dari Panglima Tertinggi Tentara Jepang untuk segera berangkat ke Vietnam.
7 Agustus 1945
Resmi Menjadi Ketua PPKI
BPUPKI dibubarkan dan PPKI resmi dibentuk. Bung Karno ditunjuk sebagai Ketua PPKI, didampingi Bung Hatta sebagai Wakil Ketua.
8 Agustus 1945
Berangkat ke Dalat, Vietnam
Menjelang tengah malam, Bung Karno, Bung Hatta, dan Dr. Radjiman Wedyodiningrat berangkat secara rahasia dari Kemayoran menuju Dalat dengan pesawat militer Jepang.
9 Agustus 1945
Transit di Tengah Bom Nagasaki
Saat bom atom kedua dijatuhkan di Nagasaki, rombongan Bung Karno transit di Singapura dan Saigon sebelum melanjutkan perjalanan ke Dalat.
10 Agustus 1945
Persiapan Diplomasi di Dalat
Setibanya di Dalat, Bung Karno beristirahat sambil menyiapkan poin-poin diplomasi untuk pertemuan penting dengan Marsekal Hisaichi Terauchi.
11 Agustus 1945
Pertemuan Bersejarah dengan Terauchi
Bung Karno dan Bung Hatta menegaskan bahwa kemerdekaan adalah hak bangsa Indonesia, bukan hadiah Jepang. Marsekal Terauchi menyampaikan rencana kemerdekaan dan menyerahkan waktu pengumumannya kepada para pemimpin Indonesia.
12–13 Agustus 1945
Perjalanan Pulang ke Tanah Air
Usai menyelesaikan misi diplomasi di Dalat, Bung Karno dan rombongan kembali melalui Saigon dan Singapura sebelum tiba di Jakarta.
14 Agustus 1945
Pidato “Jagung Berbuah”
Setibanya di Jakarta, Bung Karno menyampaikan pidato yang kemudian dikenal sebagai “Jagung Berbuah”, menandakan kemerdekaan sudah sangat dekat. Pada hari yang sama, Jepang sebenarnya telah menyerah kepada Sekutu, meski kabar itu masih dirahasiakan di Indonesia.
15 Agustus 1945
Desakan Memproklamasikan Kemerdekaan
Setelah kabar menyerahnya Jepang diketahui, golongan muda mendesak Bung Karno segera memproklamasikan kemerdekaan. Bung Karno menolak bertindak tergesa-gesa demi menghindari kekacauan dan pertumpahan darah.
16 Agustus 1945
Rengasdengklok hingga Perumusan Proklamasi
Dini hari, Bung Karno dan Bung Hatta dibawa ke Rengasdengklok oleh para pemuda. Malam harinya, setelah kembali ke Jakarta, naskah Proklamasi dirumuskan di rumah Laksamana Tadashi Maeda, ditulis tangan oleh Bung Karno dan diketik oleh Sayuti Melik.
17 Agustus 1945
Indonesia Merdeka
Pagi hari, Bung Karno dan Bung Hatta menandatangani teks Proklamasi. Tepat pukul 10.00 WIB di Pegangsaan Timur No. 56, Bung Karno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Sang Saka Merah Putih jahitan Ibu Fatmawati dikibarkan, mengiringi lahirnya Indonesia sebagai negara merdeka.

















































































