Jakarta, Gesuri.id - Sekretaris DPD PDI Perjuangan Kaltim, Ananda Emira Moeis, menegaskan bahwa partainya tidak akan menjadi pengikut buta dalam roda kekuasaan.
Salah satu poin paling menarik yang muncul dalam Rakernas ini adalah penegasan posisi PDI Perjuangan terhadap jalannya pemerintahan saat ini.
"Kita akan memberi apresiasi bila pemerintah bekerja untuk rakyat. Tapi kita juga harus berani mengkritik ketika kebijakan tidak tepat sasaran. Itu tugas kita sebagai partai yang berdiri untuk kebenaran," tegas Ananda, Minggu (11/1).
Baca: Ganjar Minta Parpol Pendukung Wacana Kepala Daerah
Ia juga mengungkapkan, dalam pidatonya, Ketua Umum Megawati Soekarnoputri membawa ingatan kader kembali ke akar sejarah yang kelam namun menguatkan.
Dari tekanan politik Orde Baru hingga tragedi berdarah 27 Juli 1996, PDI Perjuangan menegaskan bahwa mereka adalah partai yang lahir dari rahim perjuangan, bukan pemberian.
Megawati menginstruksikan seluruh kadernya untuk kembali ke khittah sebagai ‘Banteng Petarung’.
“Sebuah instruksi simbolis yang bermakna kader harus memiliki mentalitas kuat, berani, dan tanpa jarak dengan rakyat, terutama di saat rakyat sedang dalam kondisi sulit,” imbuh Nanda Moeis, sapaan akrab Wakil Ketua DPRD Kaltim ini.
Kehadiran jajaran elit partai dan perwakilan daerah dari seluruh penjuru Indonesia di Ancol menunjukkan bahwa PDI Perjuangan sedang merapatkan barisan.
Dengan usia ke-53, partai ini tampak ingin menunjukkan kematangannya dalam mengelola konflik dan tetap berdiri kokoh sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan.
Baca: Ganjar Harap Kepemimpinan Gibran Bisa Teruji
Rakernas juga akan melahirkan rekomendasi-rekomendasi politik krusial yang akan mempengaruhi peta kebijakan nasional dalam beberapa tahun ke depan.
Tentunya, publik menanti, sejauh mana PDI Perjuangan benar-benar mengawal kebijakan yang dianggap menyimpang dari kepentingan wong cilik.
“Ibu Ketua Umum menegaskan, seluruh kader harus berani, harus hadir menjawab persoalan rakyat menangis dan tertawa bersama rakyat. Sejarah panjang PDI hingga menjadi PDI Perjuangan mengajarkan bahwa kita ditempa oleh rintangan. Maka kader harus kuat, gotong royong, dan selalu berada di tengah rakyat,” ujarnya.

















































































