Tebing Tinggi, Gesuri.id — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kota Tebing Tinggi menggelar peringatan tiga dekade atau 30 tahun peristiwa Kerusuhan 27 Juli (Kudatuli) di Kantor DPC PDI-P Kota Tebing Tinggi, Minggu malam (26/7).
Sebagai catatan sejarah penting, Kudatuli merupakan tragedi penyerangan Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro Nomor 58, Jakarta Pusat, pada 27 Juli 1996 silam. Peristiwa berdarah tersebut tidak hanya memicu gelombang kerusuhan besar di Jakarta sebagai bentuk perlawanan terhadap rezim Orde Baru, tetapi juga tercatat sebagai tonggak awal menuju era Reformasi 1998.
Peringatan tiga dekade Kudatuli ini dilaksanakan secara serentak oleh struktur PDI-P mulai dari tingkat DPP, DPD, hingga DPC di 514 kabupaten/kota seluruh Indonesia. Di Kota Tebing Tinggi, rangkaian acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, mengheningkan cipta, refleksi ideologi, hingga pemutaran video teatrikal yang menggambarkan kembali detik-detik penyerbuan kantor partai masa itu.
Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Tebing Tinggi yang juga Wali Kota Tebing Tinggi, Iman Irdian Saragih, beserta jajaran pengurus DPC, Pimpinan Anak Cabang (PAC), Ranting, Anak Ranting, badan dan sayap partai, serta dihadiri oleh para simpatisan dan masyarakat setempat.
Dalam sambutannya, Iman Irdian Saragih menegaskan bahwa peringatan ini diselenggarakan secara serentak secara nasional untuk merawat ingatan kolektif bangsa.
"Kegiatan ini sebagai momentum untuk mengenang para korban sekaligus mengingat kembali perjuangan mempertahankan demokrasi," ujar Irdian.
Ia menjelaskan, DPP PDI-P telah menerbitkan surat internal yang memuat refleksi ideologis 30 tahun Kudatuli serta lima instruksi penting dari Ketua Umum PDI-P, Megawati Soekarnoputri, yang wajib dijalankan oleh seluruh kader.
Poin pertama instruksi tersebut adalah menjunjung tinggi keberanian dan kesabaran revolusioner. Poin kedua menekankan sikap tegas untuk menolak politik fitnah, penyebaran hoaks, serta fenomena buzzer.
"Ini yang harus kita hindari semuanya kepada seluruh pengurus partai," tegasnya.
Selanjutnya pada instruksi ketiga, kader diminta untuk membumikan kebudayaan dan menjadi pandu bagi generasi muda dengan mengusung prinsip "Berkepribadian dalam Kebudayaan" sebagai bagian dari pengamalan Trisakti Bung Karno. Poin keempat adalah mengawal supremasi hukum dan kedaulatan rakyat, sedangkan poin kelima menginstruksikan pelaksanaan refleksi 27 Juli di seluruh daerah.
Baca: Ganjar Bangga dengan Kualitas Bahan Aspal Karya Anak Bangsa
Lebih lanjut, Irdian mengingatkan pentingnya menjaga disiplin organisasi yang selama ini menjadi ciri khas PDI-P, termasuk melalui penguatan pendidikan politik bagi seluruh kader.
Menutup sambutannya, ia mengajak seluruh kader, simpatisan, tokoh agama, dan tokoh masyarakat untuk bersatu padu mendukung berbagai program pembangunan di Kota Tebing Tinggi, mulai dari sektor kesehatan, pendidikan, perekonomian, hingga infrastruktur.
"Mari sama-sama kita dukung pemerintahan yang ada di Kota Tebing Tinggi ini, baik dari program kesehatan, pendidikan, perekonomian, infrastruktur, dan yang lainnya. Saya tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan dari siapapun," pungkasnya.

















































































