Jakarta, Gesuri.id – Tokoh PDI Perjuangan Jakarta William Yani mengingatkan bahwa militansi kader yang menjadi kekuatan utama PDI Perjuangan sejak masa perjuangan melawan Orde Baru tidak boleh luntur akibat praktik politik titipan maupun mengabaikan kader-kader yang telah lama berjuang.
Hal tersebut disampaikan William Yani dalam Diskusi Tapak Tilas 30 Tahun Tragedi Kudatuli yang digelar PAC PDI Perjuangan Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, Sabtu (25/7).
Menurut William, perubahan budaya kaderisasi di tubuh partai menjadi perhatian serius. Ia mengenang bahwa pada masa perjuangan, syarat bergabung ke PDI hanya satu, yakni keberanian menghadapi risiko.
"Dulu kalau mau masuk PDI pertanyaannya cuma satu, berani atau tidak. Sekarang perjalanan itu berubah. Jangan sampai militansi kader hilang karena kader-kader yang berjuang tidak lagi dihargai," ujarnya.
William menilai kader yang lahir dari proses perjuangan memiliki ikatan emosional yang kuat terhadap partai. Namun, ikatan tersebut dapat memudar apabila proses rekrutmen lebih mengedepankan kepentingan pragmatis dibanding rekam jejak perjuangan.
Menurutnya, kritik semacam ini perlu diterima sebagai bentuk autokritik organisasi agar PDI Perjuangan tetap menjadi partai yang kokoh menghadapi dinamika politik ke depan.
"Saya berharap pimpinan partai tidak alergi terhadap kritik. Kalau militansi di bawah tidak dihargai, lama-kelamaan semangat perjuangan itu akan hilang," katanya.
William menambahkan bahwa tantangan menuju Pemilu 2029 harus dijawab dengan memperkuat kaderisasi berbasis pengabdian, bukan sekadar popularitas atau kepentingan sesaat.
#30tahunkudatuli
#Diponegoro58
#PDIPerjuangan
#MegawatiSoekarnoPutri
















































































