Ikuti Kami

Festival Kuliner Nusantara: Gaung Kedaulatan Pangan ala Bung Karno

Di Tengah Tekanan Ekonomi, PDI Perjuangan Gelar Festival Kuliner Bung Karno: "Buku Ini Sudah Sajikan Konsep Matang Sebelum Program MBG"

 Festival Kuliner Nusantara: Gaung Kedaulatan Pangan ala Bung Karno
Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto.

Tangerang Selatan, Gesuri.id  – Di tengah tekanan ekonomi yang makin terasa di kantong rakyat, PDI Perjuangan mengajak masyarakat bersama-sama merespons isu kedaulatan pangan melalui Festival Wisata Kuliner Nusantara Bulan Bung Karno 2026 di Pamulang Square, Tangerang Selatan, Jumat (12/6).

Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, yang membuka acara menegaskan bahwa konsep gizi rakyat dalam buku Mustika Rasa karya Bung Karno sudah merancang kemandirian pangan jauh sebelum program Makan Bergizi Gratis (MBG) di pemerintahan saat ini.

"Buku ini sudah menyajikan konsep matang bagaimana rakyat Indonesia bisa hidup sehat. Sebagai contoh, di halaman 15, untuk keluarga dengan ayah umur 30 tahun dan ibu hamil 5 bulan, ayah memerlukan kalori 2.600 per hari, ibu hamil perlu 500 gram beras. Bung Karno sudah menjalankan komitmen agar rakyat Indonesia cukup pangan – sebelum ada program MBG," kata Hasto.

Baca: Sambut Bulan Bung Karno, Ganjar Ajak Generasi Muda

Hasto juga menyoroti bahaya ketergantungan pangan impor dengan mencontohkan kasus jeruk Pontianak yang mati akibat kebijakan monopoli di masa lalu.

"Ketika ditanya ini impor atau bukan, lalu dikatakan ini impor. Padahal dulu kita tahu di Pontianak ada Jeruk Pontianak yang luar biasa. Tetapi ketika kekuasaan Orde Baru melakukan tata niaga jeruk yang dimonopoli oleh keluarga presiden, maka matilah Pontianak sebagai pusat produksi jeruk."

Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Pariwisata, Wiryanti Sukamdani, dalam sambutannya menegaskan bahwa festival ini adalah gerakan kebudayaan sekaligus ekonomi kerakyatan.

"Lidah dan perut rakyat Indonesia tidak boleh terjajah oleh makanan impor. Kita harus betul-betul mengurasi makanan kita, harus makanan dari Indonesia. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai hasil bumi, hasil laut, hasil pertanian, dan hasil karya rakyatnya sendiri," kata Yanti.

Yanti menjelaskan empat sasaran festival, yaitu melestarikan menu Nusantara, membantu UMKM menyediakan makanan lezat, murah, sehat, dan bergizi, menghidupkan resep dari buku Mustika Rasa serta menu-menu pendamping beras, serta memperkuat kedaulatan pangan nasional.

"Masalah perut adalah masalah yang sangat mendasar. Dari perut yang sehat, lahir tubuh yang kuat. UMKM kuliner memiliki peran besar dalam menghadirkan makanan yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menyehatkan dan membahagiakan rakyat," beber Yanti.

Festival yang berlangsung hingga Minggu (14/6/2026) ini menghadirkan 135 pelaku UMKM dengan lebih dari 300 menu kuliner Nusantara yang seluruhnya terinspirasi dari buku Mustika Rasa. Area seluas 500 meter di halaman Pamulang Square dipenuhi stan-stan yang menjajakan lontong rendang, dodol, nasi bakar, jus buah Nusantara, hingga kopi lokal.

Acara pembukaan dihadiri oleh sejumlah petinggi DPP PDIP, antara lain Wakil Sekjen Bidang Kerakyatan Sri Rahayu, Dr. Ribka Tjiptaning (Bidang Kesehatan), anggota DPR RI Mercy Barends dan Yulius Setiarto. Dari jajaran daerah, tampak hadir Ketua DPD PDI Perjuangan Banten Ade Sumardi didampingi Sekretaris Wanto Sugito, serta perwakilan DPD PDI Perjuangan Jakarta dan DPD PDI Perjuangan Jawa Barat. Turut hadir perwakilan dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, jajaran DPC se-Jabodetabek, anggota DPRD se-Jabodetabek, serta Ketua Panitia Gita Swarantika.

Baca: Perjalanan Hidup Ganjar Pranowo Lengkap dengan Rekam Jejak

Hasto mengakhiri sambutannya dengan pantun yang mengajak masyarakat mencintai kuliner lokal:

"Ada mie ayam, ada bakso, ada sayur bayam dan soto.Jangan lupa makan gado-gado, PDI Perjuangan selalu di hati, pro-rakyat lho!"

"Dengan ini, Bulan Bung Karno melalui festival wisata kuliner 'Satu Rasa, Satu Bangsa, dan Sajian Nusantara' secara resmi kami nyatakan dibuka," pungkas Hasto.

Quote