Ikuti Kami

Gagas 'Millennium Public Pulse 28', Hasto Kenalkan 'Mustika Rasa' Sebagai MBG ala Bung Karno

Bahas Keresahan Gen Z di Public Pulse 28, Hasto Kristiyanto Ajak Anak Muda Bangun Kepemimpinan Intelektual

Gagas 'Millennium Public Pulse 28', Hasto Kenalkan 'Mustika Rasa' Sebagai MBG ala Bung Karno
Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto

Jakarta, Gesuri.id - Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, mengusulkan peningkatan arah gerakan intelektual muda progresif yang baru diluncurkan menjadi skala Millennium Public Pulse 28.

Usulan tersebut disampaikan Hasto dalam peluncuran gerakan kepemudaan tersebut di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Selasa (28/7/2026). Hasto memandang, penamaan ini selaras dengan karakter generasi muda yang harus memiliki visi jauh ke depan (futuristik) namun tetap berpijak pada penyelesaian masalah riil di masyarakat bawah.

Acara diskusi perdana ini dipandu oleh politisi muda Muhammad Syaeful Mujab dengan menghadirkan dua sosok inspiratif, yakni Co-Founder What's Up Indonesia (WIUI) Abigail Limuria, serta Ekonom INDEF Berly Martawardaya.

Merujuk pada buku The Daily of CEO karya Steven Bartlett, Hasto menerangkan bahwa setiap transformasi organisasi atau gerakan sosial harus dimulai dari pemahaman terhadap diri sendiri (The Self) mengenai siapa identitas pemuda Indonesia, diikuti dengan penyusunan narasi strategis yang kuat (The Story).

"Kita harus merumuskan The Story-nya. Bagaimana narasi-narasi yang kita bangun, strategic communication dari anak-anak muda sehingga mampu mengubah dunia melalui intellectual leadership yang berkarakter," kata Hasto.

Ia mengapresiasi rekam jejak kedua narasumber, yakni Berly Martawardaya yang mengasah ilmu akademis ekonominya dari Universitas Indonesia, Amsterdam, hingga Italia untuk kesejahteraan rakyat, serta Abigail Limuria yang menginisiasi gerakan Bijak Memilih sebagai sarana edukasi politik pemilih muda pada Pemilu lalu.

Menariknya, Hasto juga menyoroti bagaimana kekuatan narasi (The Story) telah dibangun oleh para budayawan dan seniman Indonesia. Ia mencontohkan Chairil Anwar yang hanya dengan puisi mampu menggetarkan semangat pejuang, serta Wiji Thukul yang hanya dengan satu kata "Lawan!" menjadi simbol perlawanan. Begitu pula dengan musisi Fariz RM yang dinilainya revolusioner di dunia musik Indonesia.

Dalam kesempatan itu, Hasto membedah buku resep kuliner legendaris nusantara berjudul Mustika Rasa yang disusun pada era pemerintahan Bung Karno setelah melalui riset mendalam selama 7 tahun. Hasto menyebut isi buku tersebut pada hakikatnya merupakan konsep Makan Bergizi Gratis (MBG) ala Bung Karno yang berbasis kemandirian rakyat.

Namun, ia menggarisbawahi perbedaan fundamental bahwa MBG ala Bung Karno tidak dijalankan sebagai proyek terpusat yang berisiko mengalihkan anggaran penting lainnya seperti dana pendidikan nasional.

"Mustika Rasa ini mengandung knowledge. Ini adalah MBG versi Soekarno. Tetapi bukan dengan proyek nasional dengan mengalihkan dana pendidikan, no! Tetapi dengan membangun kesadaran rakyat, menyajikan data informasi bahwa kalau kita makan daun kelor, daun pepaya, umbi-umbian, kita akan sehat. Di sini sudah dikaji dengan cara MBG yang memberdayakan rakyat Indonesia," terangnya.

Dalam buku tersebut, kandungan gizi mulai dari pepaya hingga umbi-umbian telah dirancang secara ilmiah oleh Badan Teknologi Makanan saat itu, sehingga dapat dikembangkan menggunakan teknologi Kecerdasan Buatan (AI) modern untuk memperkuat kedaulatan pangan lokal.

Tak hanya berhenti pada gagasan, Hasto mendorong agar jajaran pengelola Millennium Public Pulse 28 tidak membatasi aktivitas diskusinya di dalam ruang Sekolah Partai saja, melainkan aktif turun langsung (go to the field) menyambung rasa dengan masyarakat bawah.

Wadah intelektual ini diminta aktif mendatangi warung kopi, taman kota, pasar tradisional, pelaku UMKM kaki lima, hingga pusat-pusat kebudayaan guna menangkap keresahan riil anak muda terkait ketersediaan lapangan kerja dan peningkatan kompetensi diri.

"Public Pulse ini nanti akan mengangkat kisah inspiratif dan best practices dari tokoh-tokoh kalangan rakyat biasa, budayawan, seniman, dan artis yang berjuang dengan jatuh bangun demi membuat legacy bagi masa depannya di luar batas-batas geografis maupun sekat partai politik," pungkas Hasto.

Untuk memperkuat visi futuristiknya, Hasto bahkan mencontohkan inovasi dari Kolombia, di mana lampu dapat menyala hanya dengan memanfaatkan air laut melalui proses elektrolisis. Ia menekankan bahwa ide-ide semacam itu layak digali dan diadaptasi oleh anak muda Indonesia untuk menjawab tantangan zaman.

Quote