Kota Batu, Gesuri.id - Komitmen terhadap pelestarian lingkungan dan pengelolaan sampah organik diwujudkan melalui aksi nyata oleh Wakil Ketua I DPRD Kota Batu dari PDI Perjuangan, Ir. H. Punjul Santoso, S.H., M.M., dengan meluncurkan inovasi pengolahan sampah berbasis komunitas di Kelurahan Sisir.
"Langkah ini merupakan pelaksanaan instruksi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan melalui gerakan 'Merawat Bumi Menjaga Pertiwi' sebagai bentuk kepedulian nyata terhadap persoalan lingkungan, khususnya dalam mengurangi volume sampah organik langsung dari sumbernya," ujar Wakil Ketua I DPRD Kota Batu, Ir. H. Punjul Santoso, S.H., M.M., saat ditemui di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu, Kota Batu, Senin (2/11/2026).

Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari aksi prabencana dan sosialisasi dalam menyambut Pekan Peduli Sampah Nasional 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 9–14 November 2026 mendatang.
Dalam pelaksanaannya, Punjul Santoso bersama jajaran dan masyarakat setempat bergotong royong membuat Tempat Pengolahan Sampah Organik (TEBA) dengan memanfaatkan drum bekas berkapasitas sekitar 200 liter. Inovasi ekonomis ini dirancang sebagai wadah pengomposan skala rumah tangga maupun lingkungan RT.
Secara teknis, drum bekas diberi lubang pada bagian bawah dan sisi samping untuk mendukung sirkulasi udara serta mempermudah proses penguraian. Drum tersebut kemudian ditanam sebagian ke dalam tanah agar mikroorganisme alami tanah dapat bekerja optimal. Penambahan biodekomposer juga dilakukan untuk mempercepat pembusukan bahan organik menjadi kompos kaya nutrisi.
Melalui metode TEBA, limbah sisa makanan, sayuran, daun kering, dan sampah organik lainnya diolah hingga memiliki nilai manfaat tinggi, sekaligus mengurangi beban pembuangan akhir ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Punjul Santoso menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak harus selalu bergantung pada teknologi modern bernilai mahal. Pemanfaatan barang bekas seperti drum terbukti menjadi solusi praktis, efisien, dan berpotensi besar untuk direplikasi secara masif di wilayah permukiman warga.
Melalui gerakan "Merawat Bumi Menjaga Pertiwi", aksi ini diharapkan tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial belaka, melainkan mampu menumbuhkan kebiasaan baru di tengah masyarakat dalam memilah dan mengolah sampah secara mandiri demi mewujudkan Kota Batu yang bersih, asri, dan berkelanjutan.

















































































