Ikuti Kami

Kisah Pilu Sofyan Tan Dari Nyaris Diberikan ke Orang Lain Hingga Berjuang Ubah Nasib Lewat Pendidikan

​Tanpa mengawalinya dengan deretan data atau formalitas kebijakan, Sofyan Tan memilih membuka lembaran masa lalunya yang penuh kepedihan.

Kisah Pilu Sofyan Tan Dari Nyaris Diberikan ke Orang Lain Hingga Berjuang Ubah Nasib Lewat Pendidikan
Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan.

Jakarta, Gesuri.id - Kemiskinan bukan sekadar perkara perut lapar atau pakaian compang-camping. Ada luka mendalam yang kerap membekas dalam ingatan: saat seseorang kehilangan harga diri hanya karena terlahir dari keluarga yang serba kekurangan.

​Pengalaman pahit itulah yang dibagikan oleh Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan, di hadapan ratusan orang tua siswa penerima Program Indonesia Pintar (PIP) tingkat SMA/SMK di Kampus Satya Terra Bhinneka, Kecamatan Medan Sunggal, Medan.

​Tanpa mengawalinya dengan deretan data atau formalitas kebijakan, Sofyan Tan memilih membuka lembaran masa lalunya yang penuh kepedihan.

Baca: Ini Resep Ganjar Pranowo Yang Selalu Fit dan Bugar

​"Saya sudah merasakan betapa tidak enaknya jadi orang miskin. Selop tetangga hilang, kita yang dituduh maling. Datang ke rumah saudara, dikira mau pinjam uang. Sakit hati," ujar Sofyan.

​Mendengar ucapan tersebut, sejumlah orang tua siswa tampak mengangguk pelan penuh keprihatinan. Beberapa lainnya tersenyum getir, seolah lirik ingatan itu menyentuh realitas hidup yang sedang mereka jalani.

​Anak ke-10 dari 10 bersaudara ini menceritakan betapa sulitnya ekonomi keluarga masa kecilnya. Keterbatasan dana membuat mayoritas kakaknya terpaksa putus sekolah. Namun, Sofyan kecil bersikeras menuntut ilmu.
​"Saya ngotot harus sekolah. Kalau tidak sekolah, saya mogok makan," kenangnya.

​Sofyan bahkan membagikan fakta yang jarang diketahui publik. Saat baru lahir, orang tuanya sempat berniat menyerahkan dirinya ke keluarga lain karena tak lagi sanggup membesarkan anak.

​"Kata ibu saya, untung dulu saya tidak jadi diberikan ke orang. Karena pada akhirnya, dari sepuluh bersaudara, hanya saya yang dianggap berhasil," tuturnya.

​Pengalaman masa kecil itulah yang mematri keyakinannya bahwa pendidikan adalah jalan paling realistis untuk memutus rantai kemiskinan.
​"Bapak dan Ibu boleh miskin harta, tetapi jangan miskin otak. Anak-anak Bapak dan Ibu harus jadi orang pintar supaya tidak hidup miskin lagi. Merekalah yang akan mengangkat harkat dan martabat keluarga," tegasnya, disambut riuh tepuk tangan hadirin.

​Ia juga menyoroti pentingnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) bagi kemajuan bangsa. Sofyan membandingkan Indonesia dengan Korea Selatan yang merdeka di tahun sama, namun mampu melesat jauh karena fokus pada pendidikan. Saat ini, sekitar 70 persen tenaga kerja di Korea Selatan merupakan lulusan perguruan tinggi, sedangkan di Indonesia masih didominasi lulusan Sekolah Dasar (SD).

Baca: Ganjar Bangga dengan Kualitas Bahan Aspal Karya Anak Bangsa

​Melalui penyerahan Surat Keputusan (SK) beasiswa PIP yang diserahkan secara langsung ini, Sofyan berharap bantuan pendidikan dapat segera dimanfaatkan oleh keluarga penerima manfaat. Ia menegaskan agar dana tersebut utuh tanpa potongan.

​"Dana ini sepenuhnya untuk biaya sekolah anak. Jangan dipakai untuk kebutuhan pribadi. Gunakan untuk membeli perlengkapan sekolah, seragam, buku, atau kebutuhan pendidikan lainnya," pesan Sofyan mewanti-wanti.

​Di akhir sambutannya, Sofyan menyampaikan pesan mendalam bagi seluruh orang tua yang hadir untuk tidak pernah menyerah menyekolahkan anak-anak mereka hingga jenjang perguruan tinggi.

​Bagi Sofyan Tan, kemiskinan memang pernah memberi luka. Namun, pendidikan telah mengubah luka tersebut menjadi harapan—harapan yang kini ia perjuangkan agar anak-anak Indonesia tidak lagi dipandang sebelah mata, melainkan tumbuh dengan ilmu yang mengangkat martabat bangsa.

Quote