Ikuti Kami

Para Jurnalis di Balik Layar Sumpah Pemuda

Yamin bahkan menulis sindiran tajam: “Bahasa Indonesia tidak ada; Tabrani tukang ngelamun”

Para Jurnalis di Balik Layar Sumpah Pemuda
Yamin bahkan menulis sindiran tajam: “Bahasa Indonesia tidak ada; Tabrani tukang ngelamun”

RUANG redaksi di Batavia pada penghujung Oktober 1928. Mesin ketik bergetar, kertas-kertas berserakan, dan para jurnalis bekerja dengan mata merah. Di meja-meja kayu itu, ada yang lebih dari sekadar berita: masa depan sebuah bangsa sedang disusun huruf demi huruf. Di luar, Kongres Pemuda II sedang berlangsung, dan para wartawan ini bukan sekadar peliput. Mereka adalah peserta, penggerak, dan dalam beberapa hal, penyelamat dari apa yang sedang lahir di Kramat Raya 106.

Di antara mereka, Mohammad Tabrani Soerjowitjitro adalah yang paling paradoks. Ia adalah seorang wartawan Hindia Baroe, tetapi ia juga penggagas Kongres Pemuda I. Pada 10 Januari 1926, di kolom Kepentingan di harian Hindia Baru, Tabrani menerbitkan tulisan berjudul “Kasihan” yang memuat gagasan awal penggunaan istilah “Bahasa Indonesia”. Ia menulis dengan keyakinan yang nyaris profetik: “Bangsa Indonesia belum ada. Terbitkanlah bangsa Indonesia itu! Bahasa Indonesia belum ada. Terbitkanlah bahasa Indonesia itu!” .

Kalimat itu bukan retorika kosong. Tabrani-lah yang secara pribadi melobi izin penyelenggaraan Kongres Pemuda, dan ketika kongres itu akhirnya digelar pada 1926, ia duduk sebagai Ketua Panitia Kongres Pemuda I. Di forum itu, ia berdebat sengit dengan Mohammad Yamin yang bersikukuh pada “Bahasa Melayu”. Yamin bahkan menulis sindiran tajam: “Bahasa Indonesia tidak ada; Tabrani tukang ngelamun” . Namun, dua tahun kemudian, dalam rumusan yang ditulis Yamin sendiri, frasa “bahasa persatuan, bahasa Indonesia” akhirnya diadopsi. Tabrani kalah dalam perdebatan, tetapi gagasannya menang dalam sejarah. Ia adalah wartawan yang menanam benih di kolom koran, dan memanennya di mimbar kongres.

W.R. Supratman: Jurnalis Sin Po yang Membawa Biola ke Ruang Kongres
Jika Tabrani adalah arsitek gagasan, Wage Rudolf Supratman adalah jurnalis yang membawa senjata artistiknya ke medan pertempuran. Ia bekerja di Sin Po, surat kabar Melayu-Tionghoa yang mulai dipimpin Kwee Kek Beng sejak 1925. Atasannya itu memberinya instruksi untuk meliput pertemuan-pertemuan tokoh pergerakan nasional di Gang Kenari, Jakarta—sebuah penugasan yang membawanya ke Kongres Pemuda I dan II.

Malam 28 Oktober 1928, setelah Soegondo membacakan rumusan dan Raden Soerjadi memimpin ikrar, Supratman—yang telah memperoleh izin dari panitia—berdiri dengan biolanya. Ia tampil percaya diri di tengah peserta kongres yang baru saja melahirkan deklarasi nasional. Ia sudah terbiasa dengan atmosfer pergerakan; sebagai pewarta, ia rutin mengikuti aktivitas para pejuang dan telah meliput Kongres Pemuda I pada 1926.

Namun, peran Supratman tidak berhenti pada gesekan biola malam itu. Setelah kongres, ia menawarkan lirik dan partitur “Indonesia Raya” ke berbagai surat kabar bumiputra, tetapi ditolak. Hanya Sin Po yang berani menerimanya. Pada 10 November 1928, surat kabar itu menerbitkan syair dan notasi lagu tersebut secara lengkap—menjadi surat kabar pertama yang melakukannya. Di tengah situasi yang penuh ketakutan dan represi, Sin Po memilih untuk tidak takut. Supratman adalah jurnalis yang membawa melodi ke ruang kongres, dan membawa partiturnya ke halaman koran—memastikan bahwa lagu itu tidak berhenti sebagai kenangan malam, tetapi menjadi nyanyian yang bisa dipelajari seluruh bangsa.

S.M. Kartosoewirjo: Wartawan Fadjar Asia yang Berdebat dan Menulis
Nama S.M. Kartosoewirjo dalam sejarah Indonesia sering dikaitkan dengan gerakan DI/TII. Namun, dalam Kongres Pemuda II, ia adalah wartawan Fadjar Asia dan wakil dari Hoofdbestuur Partai Sarekat Islam (PSI) . Kehadirannya di kongres bukan sebagai penonton. Ia memberikan pandangan tentang hakikat pendidikan pada masa yang akan datang. Ketika perdebatan memanas dan ketua kongres berusaha meredakan situasi dengan menyatakan bahwa protes tidak akan disampaikan karena akan merambah masalah politik, Kartosoewirjo menyambung dengan kalimat yang tajam: “Tulis saja di koran!” .

Kalimat itu adalah esensi dari peran pers dalam Sumpah Pemuda: ketika ruang kongres dibatasi oleh larangan politik, koran menjadi ruang alternatif untuk bersuara. Kartosoewirjo, seperti Tabrani dan Supratman, memahami bahwa perjuangan tidak berhenti di ruang rapat. Ia berlanjut di halaman cetak, di mana kata-kata tidak bisa dibungkam oleh polisi kolonial.

Bataviaasch Nieuwsblad: Saksi Kolonial yang Merekam Sejarah Tanpa Sadar
Di sisi lain spektrum, ada Bataviaasch Nieuwsblad—koran berbahasa Belanda yang terbit pada Senin, 29 Oktober 1928. Koran ini memberitakan Kongres Pemuda II dengan detail yang kelak menjadi salah satu sumber primer paling penting bagi para sejarawan. Ia mencatat bahwa kongres dihadiri oleh 750 orang, dan bahwa Mohammad Yamin berpidato tentang lima faktor persatuan: sejarah, bahasa, hukum/adat, pendidikan, dan kehendak bersatu. Koran kolonial ini, yang mungkin tidak sepenuhnya menyadari apa yang sedang ia saksikan, merekam detik-detik ketika sebuah bangsa mulai merumuskan dirinya sendiri—dan catatannya menjadi bukti yang tak terbantahkan bagi generasi mendatang.

Epilog: Pers sebagai Arsitek yang Tak Terlihat
Pada malam 28 Oktober 1928, ketika biola Supratman mengalun dan ikrar menggema, para jurnalis itu ada di sana. Tabrani tidak hadir secara fisik malam itu, tetapi gagasannya tentang “Bahasa Indonesia” telah menang dalam rumusan yang dibacakan Soegondo. Supratman berdiri dengan biolanya, lalu kembali ke Sin Po untuk memastikan lagu itu tidak hilang. Kartosoewirjo menulis di Fadjar Asia, menyebarkan semangat kongres ke mereka yang tidak bisa hadir. Dan Bataviaasch Nieuwsblad mencatat semuanya untuk sejarah, bahkan ketika kolonialisme yang ia wakili sedang menuju akhirnya.

Pers, dalam Sumpah Pemuda, bukanlah pengamat. Ia adalah peserta. Ia menciptakan gagasan (Tabrani), menyelamatkan karya (Supratman dan Sin Po), menyuarakan perlawanan (Kartosoewirjo), dan merekam sejarah (Bataviaasch Nieuwsblad). Tanpa mereka, Sumpah Pemuda mungkin hanya akan menjadi peristiwa lokal di Batavia—sebuah rapat yang berakhir tanpa gaung. Tetapi karena mereka, ia menjadi milik seluruh bangsa.

Ikuti rangkaian publikasi Sumpah Pemuda ini dan sambut Merah Muda Fest pada 25 Oktober 2026. Mari lanjutkan semangat Sumpah Pemuda dengan menjadi bagian dari Millennium Public Pulse 28 pada 28 Oktober 2028. Informasi lebih lanjut mengenai acara dapat diakses melalui merahmudafest.com.

Quote