Jakarta, Gesuri.id - Anggota MPR RI Putra Nababan mengajak masyarakat untuk terus menjaga kerukunan dan memperkuat semangat gotong royong di tengah keberagaman suku, agama, budaya, maupun perbedaan pandangan yang ada di tengah masyarakat.
Demikian disampaikan Putra dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, Kamis (6/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan sekaligus dialog bersama warga untuk membumikan nilai-nilai Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari.
"Kehidupan masyarakat saat ini menghadapi tantangan yang semakin beragam. Terlebih di wilayah perkotaan seperti Jakarta, masyarakat dengan latar belakang yang berbeda hidup berdampingan dalam satu lingkungan. Karena itu, kemampuan untuk saling menghormati, berkomunikasi, dan bekerja sama menjadi modal penting dalam menjaga persatuan," ungkap Putra.

Putra menambahkan, perbedaan tidak seharusnya menjadi penghalang bagi masyarakat untuk hidup guyub. Sebaliknya, keberagaman harus menjadi kekuatan untuk membangun lingkungan yang saling peduli dan saling membantu.
Dalam paparannya, Putra menekankan bahwa nilai-nilai Pancasila tidak cukup berhenti sebagai pengetahuan atau hafalan. Nilai tersebut harus hadir dalam tindakan sederhana yang dilakukan masyarakat setiap hari.
"Semangat itu dapat diwujudkan dengan membantu tetangga yang mengalami kesulitan, bergotong royong menjaga lingkungan, menghormati kegiatan keagamaan warga lain, bermusyawarah ketika menghadapi persoalan, serta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang dapat menimbulkan konflik di tengah masyarakat," katanya.
Putra juga menyoroti pentingnya peran tokoh masyarakat, pengurus lingkungan, serta warga dalam menciptakan ruang komunikasi yang sehat. Ketika muncul perbedaan pandangan, musyawarah harus dikedepankan sehingga persoalan dapat diselesaikan tanpa merusak hubungan antarwarga.
Menurutnya, tokoh masyarakat mempunyai posisi strategis sebagai penghubung sekaligus pengayom warga. Namun, menjaga persatuan tidak dapat hanya dibebankan kepada tokoh masyarakat. Setiap individu mempunyai tanggung jawab untuk menciptakan suasana lingkungan yang rukun.
"Pentingnya membangun kebiasaan untuk saling mengenal dan berinteraksi. Kegiatan sederhana seperti kerja bakti, pertemuan warga, kegiatan sosial, kegiatan kepemudaan, hingga musyawarah lingkungan dapat menjadi ruang untuk mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang," ungkapnya.
Karena itu, Putra mengajak masyarakat agar semangat Bhinneka Tunggal Ika benar-benar diwujudkan mulai dari lingkungan terdekat. Berbeda suku, agama, budaya, maupun pandangan tidak boleh menghilangkan kesadaran bahwa seluruh masyarakat merupakan bagian dari bangsa Indonesia.

















































































