Jakarta, Gesuri.id - Anggota DPRD Garut Fraksi PDI Perjuangan, Yudha Puja Turnawan, meminta Pemerintah Kabupaten Garut segera membangun kolaborasi pendanaan melalui Forum Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan (TJSLP) untuk membantu Enas (69), lansia dhuafa di Kampung Ciharemis RT 03 RW 08, Desa Pasirkiamis, Kecamatan Pasirwangi, yang rumahnya roboh.
"Kita mengharapkan kepada pemerintah Kabupaten Garut untuk bisa menggerakkan kolaborasi pendanaan untuk membantu membangun kembali rumah emak Enas," ujarnya, dilansir dari prianganinsider.pikiran-rakyat.com.
Yudha menyampaikan hal tersebut saat mengunjungi Enas pada Senin (24/8/2026). Dalam kunjungan itu, ia didampingi petugas Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Garut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Garut, petugas Kecamatan Pasirwangi, serta aparat Desa Pasirkiamis.
Enas merupakan seorang janda lanjut usia yang hidup dalam keterbatasan ekonomi. Rumah yang ditempatinya roboh beberapa waktu lalu sehingga membuat kondisi tempat tinggalnya semakin memprihatinkan.
Dalam kunjungan tersebut, Yudha turut memberikan bantuan secara pribadi berupa sembako dan uang tunai kepada Enas. Sementara itu, Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Garut juga menyalurkan bantuan sembako.
Menurut Yudha, kondisi Enas membutuhkan perhatian serius dari pemerintah. Selain rumahnya roboh, ia mendapat informasi bahwa Enas selama ini tidak menerima sejumlah bantuan sosial pemerintah akibat persoalan penempatan desil dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Yudha kemudian meminta jajaran Pemerintah Kabupaten Garut memberikan perhatian terhadap Enas dan lansia lain yang menghadapi persoalan serupa.
"Pak bupati, ibu wakil bupati, pak sekda, saya minta tolong untuk kondisi warga yang sangat rapuh ya, untuk ibu Enas ini dan banyak lansia lainnya, ini mengalami rumah roboh. Kemudian beliau juga tidak masuk desil, tidak masuk dalam DTSEN. Sehingga beliau tidak mendapatkan PKH lansia, sembakau, BLT kestra maupun komponen jaring pengaman sosial dari pemerintah pusat," ujar Yudha.
Di tengah keterbatasan tersebut, warga sekitar telah bergotong royong membantu membangun kembali rumah Enas. Namun, Yudha menilai dukungan masyarakat perlu diperkuat melalui keterlibatan pemerintah daerah dan berbagai pihak lainnya.
Ia mendorong Pemkab Garut membangun ekosistem pendanaan dengan mengoptimalkan kolaborasi melalui dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), Baznas, serta berbagai perusahaan dan entitas usaha yang beroperasi di Kabupaten Garut.
Menurutnya, kolaborasi tersebut dapat menjadi salah satu solusi untuk membantu warga yang berada dalam kondisi paling rentan, terutama mereka yang tidak terakomodasi dalam skema bantuan sosial pemerintah pusat.
"Harapan saya kalaupun pemimpin tidak bisa hadir coba buat ekosistem sosial, optimalkan kolaborasi pendanaan dana CSR, Baznas, melalui forum TJSLP forum tanggung jawab sosial lingkungan perusahaan, bukan hanya BUMD tapi berbagai entitas skala besar yang beroperasi di kabupaten Garut dari Bank-bank Himbara bank swasta nasional semua entitas usaha itu kemudian diarahkan untuk membantu warga yang paling rentan seperti ibu Enas ini," ujarnya.
"Tentunya ini membutuhkan ekosistem perlindungan sosial di tengah keterbatasan fiskal kita," sambungnya.
Selain persoalan kondisi rumah, Yudha juga menyoroti mekanisme pengusulan bantuan perbaikan atau pembangunan rumah bagi warga yang membutuhkan.
Ia meminta Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Kabupaten Garut memiliki alur serta parameter yang jelas terkait pengajuan bantuan tersebut.
Yudha menyebut usulan terkait kondisi Enas sebenarnya telah disampaikan oleh pihak Kecamatan Pasirwangi sejak April. Namun, hingga kunjungannya pada Senin (24/8), bantuan tersebut belum terealisasi.
"Dan kepada Disperkim Garut saya meminta agar memiliki alur yang jelas ketika pemerintah kecamatan sudah mungsulkan di bulan April namun tidak ada kunjung bantuan harus dikomunikasikan jadi parameternya di seperti apa yang dapat bantuan atau tidak," ujarnya.
Yudha menilai kejelasan mekanisme penting agar pemerintah kecamatan maupun masyarakat mengetahui tahapan dan persyaratan pengajuan bantuan, sekaligus memastikan warga yang berada dalam kondisi paling membutuhkan tidak terlewatkan.
Sementara itu, Alit, salah satu anak Enas, mengatakan kondisi ibunya kini sudah tidak memungkinkan untuk mencari penghidupan sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Enas mengandalkan pemberian dari anak-anak dan keluarga.
Alit juga menyebut keluarganya tidak menerima bantuan sosial pemerintah seperti yang diterima sejumlah warga kurang mampu lainnya.
Keluarga berharap pemerintah memberikan perhatian dan bantuan agar Enas dapat kembali memiliki tempat tinggal yang layak setelah rumah yang ditempatinya roboh.

















































































