Ikuti Kami

Guruh Soekarnoputra: Sang Maestro, Taksu Nusantara, dan Penerjemah Pancasila Dalam Bahasa Keindahan

Oleh: Dr. I Wayan Sudirta, SH., MH.- Anggota Komisi III DPR RI Fraksi PDI Perjuangan.

Guruh Soekarnoputra: Sang Maestro, Taksu Nusantara, dan Penerjemah Pancasila Dalam Bahasa Keindahan
Dr. I Wayan Sudirta, SH., MH.- Anggota Komisi III DPR RI Fraksi PDI Perjuangan.

Jakarta, Gesuri.id - Pada hari Sabtu, 26 September 2026, Ibu Pertiwi kembali meneteskan air mata.

Bangsa Indonesia tidak sekadar kehilangan seorang putra proklamator, tetapi kehilangan seorang maestro, sang penjaga gawang kebudayaan, dan denyut nadi seni Nusantara.

Guruh Soekarnoputra telah berpulang.

Sebagai seorang yang lahir dan bernapas dalam rahim tradisi Bali, sekaligus seorang nasionalis yang mengakar pada ajaran Marhaenisme, saya menatap kepergian Mas Guruh dengan rasa kehilangan yang teramat sangat.

Membicarakan Guruh Soekarnoputra tidak bisa hanya dengan kacamata politik praktis.

Ia terlalu besar untuk sekadar ditempatkan dalam etalase kekuasaan.

Membicarakan Mas Guruh adalah membicarakan roh kebudayaan Indonesia, dan secara khusus, membicarakan sebuah ikatan batin yang begitu magis dengan Tanah Leluhur: Bali.

Darah Srimben dan Tarikan Spiritual Taksu Bali.
Bagi masyarakat Bali, Mas Guruh bukanlah "orang luar" yang datang untuk mengagumi keindahan pulau ini.

Ia adalah bagian dari darah daging Bali itu sendiri.

Mengalirnya darah Ida Ayu Nyoman Rai Srimben—ibunda Bung Karno yang berasal dari Buleleng—di dalam nadi Mas Guruh, membuatnya memiliki "Taksu" yang tidak bisa dipelajari dari buku manapun.

Mas Guruh tidak hanya mewarisi garis keturunan Bali, tetapi ia menyerap energi spiritualnya.

Kita melihat bagaimana ia menghabiskan waktu berjam-jam, berhari-hari, hingga berbulan-bulan untuk menyatu dengan denting gamelan, gemulai tarian, dan sakralnya ritus seni Pulau Dewata.

Melalui sanggar Swara Maharddhika dan GSP (Guruh Soekarnoputra Production), ia tidak sedang mengeksploitasi seni Bali untuk komersialisasi.

Sebaliknya, ia sedang melakukan yadnya (persembahan suci), mengangkat derajat kesenian Bali, memadukannya dengan tarian Nusantara lainnya, dan membawanya ke panggung-panggung megah kelas dunia.

Di tangan Mas Guruh, tari kecak, legong, dan barong bukan lagi sekadar daya tarik pariwisata, melainkan manifestasi dari keagungan peradaban Indonesia.

Ia merawat kebudayaan Bali layaknya ia merawat pusaka ibunya sendiri.

Pancasila yang Menari dan Bernyanyi Sering kali kita terjebak dalam perdebatan kaku tentang Pancasila di ruang-ruang sidang, di mimbar-mimbar akademik, atau dalam diktat-diktat politik.

Namun, Guruh Soekarnoputra mengambil jalan sunyi yang jauh lebih menghentak: ia membumikan Pancasila lewat panggung seni.
Bagi Mas Guruh, Pancasila bukanlah dogma yang harus dihafal, melainkan harmoni yang harus dirasakan.

Ketika ia meracik koreografi yang memadukan gerakan tari Minang, hentakan ritmis Papua, gemulai keraton Jawa, dan magisnya Bali dalam satu panggung kolosal, saat itulah ia sedang mengajarkan Bhinneka Tunggal Ika secara paripurna.

Mas Guruh adalah pengejawantahan paling sempurna dari Trisakti ajaran Bung Karno, khususnya poin ketiga: Berkepribadian dalam Kebudayaan.

Ketika generasi muda di era 70-an hingga 90-an nyaris tersapu arus westernisasi budaya pop global, Mas Guruh hadir bak sang penyelamat.

Ia mendandani seni tradisi dengan kemasan modern yang megah, membuat anak muda Indonesia kembali bangga memakai kain tenun, bangga mendengar gamelan, dan bangga pada identitas keindonesiaannya.

Ia berpolitik tidak selalu dengan pidato yang berapi-api, melainkan dengan melodi, tata cahaya, dan gerak tubuh.

Melalui seni, Mas Guruh menyemai rasa cinta tanah air yang langsung menusuk ke dalam kalbu, melewati sekat-sekat ideologi dan agama. Itulah cara terindah mengamalkan Pancasila.
Jejak Keabadian Sang Putra Fajar
Di ranah politik formal, melalui PDI Perjuangan, Mas Guruh adalah sosok yang tenang namun teguh karangnya.

Ia berdiri di garda depan menjaga ajaran-ajaran ayahnya, bukan dengan ambisi kekuasaan, melainkan dengan ketulusan seorang penjaga moral. Kesetiaannya pada ibu Megawati Soekarnoputri dan partai adalah bukti bahwa ia tidak pernah lari dari takdir sejarah keluarganya sebagai pelindung kaum Marhaen.

Kini, panggung itu telah sepi. Sang sutradara agung telah melangkah ke belakang tirai untuk selama-lamanya. Namun, mahakaryanya akan terus abadi.

Setiap kali gamelan ditabuh, setiap kali anak muda Indonesia menciptakan karya seni yang memadukan unsur tradisi, di sanalah jiwa Guruh Soekarnoputra akan selalu hidup. Selamat jalan, Mas Guruh. Tugasmu merawat Taman Sari Nusantara telah usai dengan gilang-gemilang.

Engkau telah membuktikan bahwa keindahan adalah senjata paling tajam untuk mempertahankan kebesaran sebuah bangsa.

Amor ing Acintya. Dari Pulau Dewata yang sangat engkau cintai, kami menghaturkan doa terbaik.

Menyatu dengan semesta, kembali kepada keabadian.

 

Sumber: m.jpnn.com

 

Quote