Ikuti Kami

Amithya Usulkan Ekonomi Hijau di Malang, dari Bank Sampah hingga Inovasi Digital

Menurut Amithya, pembangunan berkelanjutan perlu menyeimbangkan upaya pelestarian lingkungan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Amithya Usulkan Ekonomi Hijau di Malang, dari Bank Sampah hingga Inovasi Digital
Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita.

Malang, Gesuri.id – Pengembangan ekonomi hijau berbasis komunitas menjadi salah satu upaya yang didorong Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, untuk menjawab persoalan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Gagasan tersebut mencakup penguatan bank sampah, pertanian perkotaan, pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ramah lingkungan, hingga pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung pengelolaan sampah dan pemanfaatan sumber daya.

Menurut Amithya, pembangunan berkelanjutan perlu menyeimbangkan upaya pelestarian lingkungan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Penerapannya di Kota Malang juga perlu disesuaikan dengan karakter daerah sebagai kota pendidikan, pusat industri kreatif, kawasan jasa, dan destinasi wisata.

Gagasan tersebut disampaikan Amithya saat menghadiri Deklarasi Gerakan Merawat Pertiwi Berdampak Ekonomi yang diinisiasi jajaran DPP PDI Perjuangan di kawasan pesisir Malang selatan, Jumat (16/10/2026).

Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar 

Dalam kegiatan itu, ia menyoroti pentingnya pemulihan ekosistem pesisir melalui pelestarian mangrove dan pengembangan potensi karbon biru atau blue carbon. Menurutnya, upaya tersebut perlu didukung kesadaran kolektif dan keterlibatan masyarakat setempat agar manfaat lingkungan dan ekonominya dapat berjalan beriringan.

Pendekatan serupa, lanjut Amithya, dapat diterapkan di kawasan perkotaan melalui program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Salah satu langkah yang diusulkan adalah memperkuat peran Bank Sampah Malang (BSM) berbasis komunitas. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos untuk mendukung pertanian dan penghijauan kota, sedangkan sampah anorganik dapat disalurkan ke industri daur ulang sesuai jenis dan karakteristik materialnya.

Menurut Amithya, pengelolaan sampah tersebut berpotensi membentuk ekosistem ekonomi sirkular, yakni sistem yang mengutamakan pemanfaatan kembali bahan agar tidak langsung berakhir sebagai limbah.

Dengan pendekatan tersebut, bank sampah tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengumpulan sampah, tetapi juga dapat menjadi bagian dari kegiatan ekonomi masyarakat.

Selain itu, Amithya mendorong pengembangan pertanian perkotaan atau urban farming dengan memanfaatkan lahan terbatas di lingkungan permukiman. Sistem hidroponik dan akuaponik dapat menjadi alternatif untuk menghasilkan bahan pangan sekaligus mendukung penghijauan di kawasan padat penduduk.

Kegiatan pertanian perkotaan juga dinilai berpeluang dikembangkan menjadi wisata tematik. Warga dapat memadukan kegiatan produksi pangan dengan edukasi lingkungan, penjualan hasil panen, dan aktivitas wisata berbasis komunitas.

Di sektor usaha, Amithya menyoroti potensi pengurangan limbah dari kafe dan restoran yang berkembang di Kota Malang.

Ia mengusulkan pemberian insentif atau sertifikasi bagi pelaku usaha yang menerapkan prinsip minim sampah atau zero waste. Upaya tersebut diharapkan mendorong dunia usaha lebih aktif dalam mengurangi limbah dan menggunakan sumber daya secara efisien.

“Bisa juga lewat komitmen bersama melalui regulasi menekan penggunaan plastik sekali pakai hingga pengolahan minyak jelantah menjadi biodiesel lewat komunitas lokal,” katanya, Minggu (19/10/2026).

Menurut Amithya, tanggung jawab pengelolaan sampah tidak seharusnya hanya dibebankan kepada pemerintah dan masyarakat. Pelaku usaha juga dapat mengambil bagian melalui pengurangan plastik sekali pakai, pemilahan limbah, serta pemanfaatan kembali material yang masih memiliki nilai ekonomi.

Pengembangan program tersebut, menurutnya, perlu didukung kerja sama antarpihak dan mekanisme pelaksanaan yang jelas agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.

Amithya juga menilai mahasiswa, pelaku industri kreatif, dan perusahaan rintisan lokal memiliki peluang untuk menghadirkan inovasi teknologi dalam mendukung ekonomi hijau.

Salah satu gagasan yang dapat dikembangkan ialah aplikasi food rescue untuk menyalurkan kelebihan makanan yang masih layak konsumsi dari kafe atau hotel kepada masyarakat yang membutuhkan.

Selain membantu mengurangi limbah makanan, platform digital juga berpotensi mendukung pencatatan, pengumpulan, dan distribusi sampah agar proses pengelolaannya lebih efektif.

Kolaborasi antara komunitas, pelaku usaha, perguruan tinggi, dan pengembang teknologi diharapkan dapat menghasilkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan lingkungan perkotaan. Dengan demikian, pengurangan sampah dapat berjalan beriringan dengan tumbuhnya peluang usaha baru.

Baca: Ini 7 Fakta Unik & Menarik Tentang Ganjar Pranowo

Dalam kapasitasnya sebagai Ketua DPRD Kota Malang, Amithya menyatakan komitmennya untuk mendukung transisi ekonomi hijau melalui penganggaran yang memperhatikan kepentingan lingkungan serta pengawasan terhadap pelaksanaan program.

Ia menekankan bahwa implementasi ekonomi hijau sebaiknya dilakukan secara bertahap, dimulai dari program yang realistis dan mudah diterapkan oleh masyarakat.

“Kita tidak perlu langsung membuat program besar, tetapi memulai dari hal yang realistis, dievaluasi secara berkala, lalu dikembangkan jika terbukti efektif,” pungkas Amithya.

Menurutnya, evaluasi diperlukan untuk mengetahui efektivitas program sebelum penerapannya diperluas ke wilayah atau komunitas lain.

Penguatan bank sampah, pertanian perkotaan, pengurangan limbah usaha, dan inovasi digital diharapkan dapat menjadi langkah awal pengembangan ekonomi hijau di Kota Malang.

Melalui keterlibatan masyarakat dan dukungan berbagai pemangku kepentingan, inisiatif tersebut diharapkan mampu mendorong pengelolaan lingkungan yang lebih baik sekaligus membuka peluang ekonomi yang berkelanjutan.

Quote