Ikuti Kami

Edi Purwanto: Serangkaian Kecelakaan Transportasi, Kegagalan Negara Lindungi Nyawa Warganya

Setiap tragedi yang terjadi kerap direspons dengan duka dan belasungkawa, namun jarang diikuti dengan evaluasi menyeluruh terhadap sistem.

Edi Purwanto: Serangkaian Kecelakaan Transportasi, Kegagalan Negara Lindungi Nyawa Warganya
Anggota Komisi V DPR RI Daerah Pemilihan Jambi, Edi Purwanto.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi V DPR RI Daerah Pemilihan Jambi, Edi Purwanto, menegaskan serangkaian kecelakaan transportasi yang menimbulkan korban jiwa belakangan ini harus dipandang sebagai peringatan serius bagi negara untuk segera membenahi sistem keselamatan publik, khususnya di sektor transportasi darat, laut, dan udara.

“Saya memandang peristiwa tenggelamnya Kapal Tunu Pratama Jaya, kecelakaan Bus Cahaya Pratama, hingga insiden pesawat ATR 42-500 yang menimbulkan korban jiwa, bukan sebagai musibah semata. Ini adalah rangkaian peringatan keras. Dan lebih dari itu, ini adalah cermin dari kelalaian serta kegagalan negara dalam menjalankan tanggung jawab paling dasarnya: melindungi nyawa warganya,” kata Edi, dikutip Sabtu (31/1/2026).

Ia menilai, setiap tragedi yang terjadi kerap direspons dengan duka dan belasungkawa, namun jarang diikuti dengan evaluasi menyeluruh terhadap sistem yang ada.

“Setiap kali tragedi terjadi, kita selalu berduka. Namun pertanyaannya, apakah negara hanya boleh berhenti pada duka dan belasungkawa? Ataukah sudah saatnya kita jujur mengakui bahwa ada sistem yang tidak berjalan sebagaimana mestinya?,” tanyanya.

Dalam rapat kerja bersama pemerintah, Edi mengaku telah secara tegas meminta Kementerian Perhubungan untuk segera melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh moda transportasi tanpa terkecuali.

“Dalam rapat kerja beberapa waktu lalu, saya menegaskan dengan sangat jelas kepada Kementerian Perhubungan agar segera melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh moda transportasi—darat, laut, dan udara. Audit ini bukan formalitas, bukan laporan di atas kertas, dan bukan sekadar pemenuhan prosedur. Audit ini harus menyentuh akar persoalan: kelayakan armada, kompetensi operator, pengawasan lapangan, hingga budaya keselamatan yang selama ini kerap diabaikan,” ungkapnya.

Menurutnya, keselamatan rakyat tidak boleh dikompromikan oleh kepentingan apa pun, baik ekonomi maupun administratif.

“Keselamatan rakyat tidak boleh menjadi alat tawar-menawar. Ia tidak bisa dikalahkan oleh alasan efisiensi, kepentingan bisnis, atau target-target administratif. Setiap nyawa yang hilang adalah kegagalan yang tidak bisa dibenarkan dengan alasan apa pun,” ujarnya.

Edi menegaskan bahwa ukuran kekuatan negara tidak hanya terletak pada pembangunan fisik, tetapi pada kemampuan negara menghadirkan rasa aman bagi warganya dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya percaya, negara yang kuat bukan hanya negara yang mampu membangun infrastruktur besar, tetapi negara yang hadir secara nyata memastikan warganya selamat saat bepergian, bekerja, dan menjalani hidup sehari-hari. Transportasi publik seharusnya menjadi sarana harapan, bukan sumber kecemasan,” jelasnya.

Ia memastikan akan terus mendorong keselamatan transportasi menjadi prioritas utama dan berkelanjutan, bukan sekadar respons sesaat setelah tragedi.

“Ke depan, saya akan terus mendorong agar keselamatan transportasi ditempatkan sebagai prioritas mutlak. Bukan sebagai agenda musiman setelah tragedi, tetapi sebagai komitmen berkelanjutan. Karena bagi saya, satu nyawa saja terlalu mahal untuk dikorbankan akibat kelalaian,” ucapnya.

Menutup pernyataannya, Edi menegaskan bahwa negara harus segera belajar dari setiap tragedi agar kegagalan yang sama tidak terus berulang.

“Negara tidak boleh terlambat belajar dari tragedi. Dan rakyat tidak boleh terus-menerus menjadi korban dari sistem yang gagal dibenahi,” pungkasnya.

Quote