Ikuti Kami

Elvi Diana Tegaskan SDM Unggul Jadi Syarat Mutlak Kemajuan Bangka Belitung di Tengah Gejolak Ekonomi

Peningkatan mutu SDM dinilai jauh lebih mendesak daripada sekadar mengandalkan kelimpahan komoditas alam yang harganya kerap berfluktuasi

Elvi Diana Tegaskan SDM Unggul Jadi Syarat Mutlak Kemajuan Bangka Belitung di Tengah Gejolak Ekonomi
Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Elvi Diana.

Jakarta, Gesuri.id – Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Elvi Diana, menegaskan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) merupakan kunci utama dan syarat mutlak bagi kemajuan daerah. 

Peningkatan mutu manusia dinilai jauh lebih mendesak daripada sekadar mengandalkan kelimpahan komoditas alam yang harganya kerap berfluktuasi.

Hal tersebut disampaikan Elvi di sela-sela penyelenggaraan Kuliah Umum di Universitas Bangka Belitung (UBB), Rabu (3/6). 

Baca: Ini 5 Kutipan Inspiratif Ganjar Pranowo Tentang Anak Muda

Ia menjelaskan, kegiatan ini diinisiasi bersama Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UBB, Prof. Devi, sebagai bentuk respons atas keprihatinan terhadap gejolak ekonomi global maupun domestik yang dampaknya kian nyata dirasakan masyarakat Babel.

“Sebenarnya latar belakang acara kuliah umum di UBB ini tentunya tidak lepas dari gejolak yang ada di Bangka Belitung sendiri. Mulai dari informasi ekonomi makro global yang penuh konflik, hingga persoalan dalam negeri. Kita sedang berjibaku dengan harga sawit yang belum stabil, harga komoditas timah yang terus berfluktuasi, serta tantangan di sektor perikanan,” ungkap Elvi.

Melihat tantangan tersebut, Elvi menilai mahasiswa UBB selaku calon Generasi Emas 2045 harus dibekali pemahaman realistis mengenai peta perekonomian. Pihaknya sengaja menghadirkan Anggoro Eko Cahyo, mantan Wakil Ketua Asosiasi Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) periode 2022–2026, sebagai narasumber ahli.

Langkah ini diambil agar para mahasiswa mendapatkan wawasan (insight) komprehensif sebelum memasuki masa ujian akhir semester (UAS) dan libur perkuliahan.

“Banyak dari mahasiswa yang orang tuanya bekerja di sektor sawit, timah, atau sebagai nelayan. Dengan memahami gejolak ekonomi ini, mereka mengerti mengapa terkadang orang tua sulit memenuhi kebutuhan, karena memang ada tekanan ekonomi yang nyata. Kesadaran ini penting agar mereka sadar bahwa solusi permasalahan daerah kelak ada di tangan mereka,” jelasnya.
 
Dalam ruang diskusi, mencuat perbandingan kontras antara negara miskin sumber daya alam yang maju pesat berkat keunggulan manusianya, seperti Tiongkok dan Singapura, dengan Indonesia yang kaya raya namun masih tertinggal.

Elvi menyepakati pandangan tersebut secara lugas. Menurutnya, kekayaan alam Bangka Belitung yang melimpah seperti timah dan hasil perkebunan tidak akan membawa kesejahteraan jangka panjang tanpa pengelolaan berbasis ilmu pengetahuan.

Baca: Kisah Perjuangan Ganjar dari Mahasiswa Sampai Jadi Capres

“Betul sekali. Suatu provinsi atau negara boleh punya segalanya, punya kekayaan alam melimpah, tapi kalau human quality atau kualitas manusianya tidak ada, ya percuma saja. Lihat Singapura, mereka tidak punya apa-apa. Malaysia pun kekayaan alamnya tidak sebanyak kita, tetapi SDM mereka mau berkembang. Sekarang kita justru tertinggal, bahkan oleh Vietnam,” cetus Elvi tegas.

Menutup pernyataannya, Elvi mengingatkan bahwa masa depan sekitar 1,5 juta jiwa penduduk Bangka Belitung sangat bergantung pada keberhasilan pembenahan sektor pendidikan dan penguatan karakter masyarakat.

“Kuncinya, kalau Bangka Belitung mau maju, tetap SDM yang utama. Masyarakat kita harus terus ditingkatkan pengetahuannya, berakhlak mulia, dan memiliki semangat kuat untuk memajukan daerah. Kita punya timah dan sawit, tetapi kalau tidak bisa mengelola dengan baik, ya akhirnya tidak akan ada apa-apanya untuk masa depan,” pungkasnya.

Quote