Malang Selatan, Gesuri.id - Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menegaskan gerakan Merawat Pertiwi menjadi salah satu platform partainya. Program lingkungan, katanya, tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi harus menjadi sumber penghidupan dan membuka lapangan pekerjaan.
"Gerakan Merawat Pertiwi ini menjadi salah satu platform dari PDI Perjuangan yang berangkat dari aspek ideologis, dengan cara-cara gotong royong kita menjaga pertiwi kita melalui gerakan menanam pohon, penghijauan, termasuk mangrove," ujar Hasto di Malang Selatan, Jawa Timur, Jumat (16/10).
Kegiatan itu bagian dari Workshop UMKM Gotong Royong dan Deklarasi Komunitas Penggiat Lingkungan Mangrove, dibuka di aula Sri Maha Resort lalu berlanjut ke Pantai Teluk Asmara. Ratusan anak muda dan mahasiswa menjadi peserta, bersama warga yang berprofesi nelayan dan pelaku UMKM.
Hadir mendampingi Hasto, Eriko Sotarduga (Ketua Bidang Kehutanan dan Lingkungan Hidup DPP PDI Perjuangan), Tri Rismaharini (Penanggulangan Bencana), Andreas Eddy Susetyo (Koperasi dan UMKM), Andreas Hugo Pareira (Keanggotaan dan Organisasi), serta Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Kerakyatan Sri Rahayu. Turut hadir Sri Oentari dari PDI Perjuangan Jawa Timur, Guntur Romli, penerima Kalpataru, Saptoyo, dan M. Zamroni.
Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur

Hasto menempatkan penciptaan lapangan kerja sebagai alasan utama gerakan itu. "Dengan cara itu pemerintah juga diuntungkan dengan menciptakan lapangan pekerjaan bagi rakyat melalui penghijauan kembali hutan-hutan kita," ujarnya.
Ia merujuk pengalaman komunitas Clungup sebagai bukti. "Mangrove ternyata juga bisa menciptakan lapangan pekerjaan, bisa melakukan perubahan ekosistem, dan dikaitkan dengan ekowisata yang berdampak pada penciptaan lapangan pekerjaan," kata Hasto.
"Tidak perlu ada pengangguran di Republik ini hanya dengan menanam mangrove di seluruh wilayah pantai kita."
Di sesi bersama anak muda, Ketua Bidang Koperasi dan UMKM DPP PDI Perjuangan Andreas Eddy Susetyo memetakan peserta lewat pertanyaan usia di bawah 25 tahun dan di bawah 35 tahun, lalu menyimpulkan keresahan utama mereka. "Susah-susah sekolah, susah-susah kuliah, ya, begitu lulus gak iso kerjo," ujarnya.
Andreas menawarkan cara pandang komunitas.
"Katakanlah kita menyalakan lilin-lilin kecil, tetapi lilin-lilin kecil itu kemudian secara bersama-sama bisa menerangi dunia," katanya.
"Kalau yang kecil-kecil ini kemudian bergabung, itulah menjadi kekuatan kita."
Hasto mengajak peserta mengemas pengalaman di kawasan itu menjadi gagasan dan kerja tim. Peserta ditantang memproduksi konten digital bertagar Merawat Pertiwi, dengan hadiah menarik.
Dialog berkembang ketika Christianovino Ramaditya, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, mempertanyakan bagaimana PDI Perjuangan mengajak lebih banyak orang merawat lingkungan, sementara ada gerakan politik yang dinilainya justru mendukung perusakan.
Baca: Inilah Profil dan Biodata Ganjar Pranowo

Hasto menempatkan jawabannya pada kebijakan dan tata ruang. Ia menyebut Megawati Soekarnoputri satu-satunya presiden yang tidak mengeluarkan izin konversi hutan untuk sawit, serta menyoroti capaian pendidikan. Dia pun menyinggung Skor PISA (Programme for International Student Assessment) Indonesia.
Ia juga menyebut penguasaan iptek dan politik ekologis sebagai syarat visi geopolitik Soekarno.
Hasto juga mengumumkan gerakan peduli sampah nasional 9-14 November 2026, dengan pengelolaan sampah organik rumah tangga di tingkat RT melalui program teba dan bio-dekomposer, serta puncak aksi bersih kota pada 14 November. Kepala daerah PDI Perjuangan diminta membuat kebun raya dan pembibitan, termasuk cemara udang sebagai tanaman wajib, dengan Eriko Sotarduga sebagai penanggung jawab bidang lingkungan.
Model CMC di Malang Selatan dinilainya layak direplikasi. "Dengan mengintegrasikan dengan ecotourism, dampaknya dua kali lipat. Kalau sebelumnya hanya 5,3 hektar per tahun, sekarang menjadi lebih dari 10 hektar per tahun," katanya. "Kalau dari PDI Perjuangan itu satunya kata dan perbuatan," tegasnya.

















































































